|
Bilangan imajiner
Apa jadinya dunia
ini tanpa banyak orang mempunyai bayangan untuk menggambarkan besarnya
v-1?. Memang keberadaan bilangan ini tidak
dapat dihindari lagi, apabila hasil suatu persamaan kuadrat, seperti:
x² = -1 (bayangkan sesuatu yang dapar digambarkan keberadaan,
namun hasil perkaliannya /kuadratnya sama dengan -1).
Kisah
Chuquet menyebut fenomena di atas tidak mungkin terjadi, sama seperti
penerimaan bangsa India pada awal abad dua-belas yang termaktub
dalam buku teks Vija Gan’ita. Aljabar dari Newton menyebut
bahwa persamaan dengan yang hasilnya suatu akar atau dua bilangan
negatif adalah mungkin (possible), namun tidak mungkin (impossible)
apabila hasil akar keduanya berupa bilangan negatif.
Cardano merombak pemikiran di atas dengan cara berpikir terbalik,
yaitu dimulai dari hasil (suatu persamaan), untuk kemudian dikalikan
seperti: 5 + v-15 dikalikan dengan 5 - v-15 hasilnya dalah (5 x
5) + (5 x (v-15)) + (5 x ( -v-15)) + (v-15 x (-v-15)) = (25) +
(5v-15) + (-5v-15) + 15 = 40.
Sepertinya menyiksa logika!
Namun semua itu dituntaskan oleh Gauss dengan
membuat sistem koordinat Kartesian dengan menempatkan bilangan
imajiner pada sistem koordinatnya,
dimana i adalah akar bilangan – 1. Jenis baru ini dengan
format a + bi disebut dengan bilangan kompleks. Pemberian nama
ini membuat i memperoleh tempat dalam buku teks aljabar. Koordinat
Kartesian, sebegai contoh, titik P(a,b); titik P juga dapat diberi
label a + bi.
Kata ‘imajiner’ sendiri dapat disebut sebuah musibah
aljabar, namaun sudah sangat mapan dalam pemikiran para matematikawan
sehingga sulit menghapus jargon ini dari otak mereka.
|