|
Notasi
Akar
Mencari
panjang sisi sebuah segi tiga siku-siku dengan menggunakan rumus
Pythagoras seringkali mempertemukan kita dengan bilangan akar yang
tidak dapat dihindari. Segitiga siku-siku dengan panjang kedua sisi
“pendeknya” 5 dan 7, maka kuadrat sisi panjang adalah
74. Tentunya sisi panjang adalah √74.
Barangkan bujur sangkar dengan sisi 1, maka diagonal bujur sangkar
adalah √.
Mengapa bentuk notasi akar demikian dan siapa pencetusnya?
Kisah
Pada abad 16, matematikawan Italia menggunakan istilah lato (artinya
“sisi”) yang terkadangdiartikan dengan akar –
karena sisi tersebut tidak diketahui panjangnya. Istilah ini kemudian
diambil untuk menghitung panjang sisi dari suatu bujur sangkar dan
bilangan kuadrat disebut dengan lato cubico. Bombelli menggunakan
terminologi dengan menggunakan simbol R., artinya radix, namun mirip
dengan simbol universal yang biasa digunakan dokter dalam menulis
resep. Oleh karena itu, Bombelli kemudian menggantinya dengan simbol
R.q. (radice quarata), sehingga akar kuadrat untuk 2 ditulis dengan
notasi R.q.2 dan akar kubik untuk 2 ditulis dengan notasi R.c. 2
(radice cubica). Simbol-simbol di atas mulai digunakan Bombelli
dalam buku karyanya yang terkenal L’Algebra.
Menulis
notasi akan dengan R.q. atau R.c. ternyata merepotkan dan tidak
praktis sehingga dibuat dengan menuliskan dalam bentuk r (huruf
r kecil). Apa yang terjadi kemudian? Penulisan notasi dengan r ini
jika ditulis oleh tangan (bukan mesin ketik) – terlebih tulisan
orang tersebut jelak, maka yang muncul adalah bentuk yang tidak
lazim. Lama kelamaan huruf r kecil yang beragam ini diberi bentuk
baku yaitu bentuk seperti yang kita kenal sekarang ini,√.
|