“Setiap
bentuk penemuan baru adalah suatu bentuk matematika, oleh karena
tidak ada pedoman yang kita miliki”
(Every new body of discovery is mathematical in form, because
there is no other guidance we can have)
C.
G. Darwin
Abu
Ja’far Muhammad ibn Musa Al-Khwarizmi
(780 – 850)
Riwayat
Di bawah pemerintahan tiga raja dinasti Abbasid – al Mansur,
Harun al-Rashid dan al-Mamun, terjadi masa keemasan Irak. Istilah
Arabian Nights tercetus pada masa Harun al-Rashid. Bahkan al-Mamun
bermimpi dapat menghadirkan kembali pemikir kaliber Aristoteles
di Bagdad.
Seperti yang sudah disebutkan pada pengantar, ada dua ilmuwan
yang “bertugas” mengalihbahasakan karya-karya ilmiah
di Graha Kebijaksanaan (The House of Wisdom), di mana salah satunya
adalah al-Khwarizmi. Buku karyanya mampu yang mencetuskan kata
aljabar dan membuatnya menjadi ilmu yang legendaris. Riwayat al-Khwarizmi
tidaklah terlalu jelas diketahui orang. Tidak banyak catatan dan
asal-usulnya yang diketahui oleh orang kebanyakan, tak terkecuali
ahli sejarah.
Nama al-Khwarizmi memberi indikasi bahwa dia berasal dari Khwarizm,
sebelah selatan laut Aral, Asia tengah. Ahli sejarah, al-Tabari
memberi tambahan julukan “al-Qutrubbulli”, yang memberi
indikasi bahwa al-Khwarizmi berasal dari Qutrubbull, yaitu daerah
antara sungai Tigris dan sungai Eufrat yang letaknya tidak jauh
dari Bagdad.
Karya
besar al-Khwarizmi
Sudah dapat dipastikan bahwa Al-Khwarizmi bekerja pada saat berkuasanya
al-Mamun dan dia mempersembahkan dua karyanya untuk Kalifah tersebut.
Karya besar di bidang aljabar dan karya besar di bidang astronomi.
Hisab al-jabr w’al-muqabala adalah karyanya di bidang aljabar
yang sangat terkenal dan sangat penting. Judul karya itu menunjuk
kata “aljabar” adalah istilah pertama yang kemudian
akan dipakai sampai sekarang. Tujuan dan pesan yang ingin disampaikan
oleh buku ini, seperti yang disebutkan dalam buku terjemahan Rosen,
adalah mencari cara termudah dan paling bermanfaat dari aritmatika.
“Setiap
hari orang berkutat dengan kasus-kasus yang menyangkut warisan,
pembagian harta, kasus-kasus hukum, perdagangan, dan semua perjanjian
yang terjadi antara pribadi misal: mengukur lahan, menggali sungai,
menghitung luas bidang geometri tertentu dan bermacam-macam perhitungan
lainnya.”
Kita
semua jadi maklum bahwa isi teks aljabar ini dimaksudkan untuk
kepentingan praktis dan aljabar diperkenalkan untuk menyelesaikan
problem-problem yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dalam
lingkup kerajaan Islam pada jaman itu. Pengantar buku ini memberi
gambaran tentang bilangan-bilangan asli (natural number), dimana
bagi mereka yang tidak fasih dengan sistem ini tampak menggelikan,
namun inti penting yang ingin disampaikan adalah pemahaman baru
tentang abstraksi seperti dinyatakan dalam kalimat di bawah ini.
Ketika
orang mulai melakukan penghitungan mereka selalu menggunakan angka.
Angka terdiri dari satuan-satuan, dan setiap angka dapat dibagi
menjadi satuan-satuan. Setiap angka diekspresikan dengan satu
sampai sepuluh, setelah sepuluh digandakan, dikalikan tiga sehingga
terdapat dua puluh, tiga puluh dan seterusnya hingga seratus.
Seratus digandakan, dikalikan tiga dengan cara yang sama sampai
akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bilangan itu tak terbatas.
Aksioma
Karya Aljabar dari al-Khwarizmi diawali dengan pengertian prinsip-prinsip
bilangan dan memberikan solusi. Terdiri dari enam bab yang terbagi
menjadi enam tipe persamaan yang mencakup tiga jenis operasi:
akar, kudrat dan bilangan (x, x² dan bilangan).
Semua solusi atau penyelesaian [penyederhanaan] suatu bentuk persamaan
(linier atau kuadrat), terlebih dahulu harus dijadikan salah satu
dari 6 bentuk baku seperti di bawah ini.
1.
Kuadrat-kuadrat identik dengan akar-akar
2. Kuadrat-kuadrat identik dengan bilangan-bilangan
3. Akar-akar identik dengan bilangan-bilangan
4. Kuadrat-kuadrat dan akar-akan identik dengan bilangan-bilangan
(misal: x² + 10x = 39)
5. Kuadrat-kuadrat dan bilangan-bilangan identik dengan akar-akar
(misal: x² + 21 = 10x)
6. Akar-akar dan bilangan-bilangan identik dengan kuadrat-kuadrat
(misal: 3x + 4 = x²).
Penyederhaan
ini menggunakan dua operasi/cara yang disebut dengan al-jabr dan
al-muqabala. Istilah “al-jabr” berarti “menyelesaikan”
yaitu proses menghilangkan bentuk negatif/minus dari suatu persamaan.
Salah satu contoh yang dikemukakan oleh al-Khwarizmi, “al-jabr”
mengubah x² = 40x – 4x² menjadi 5x² = 40x.
Istilah “al-muqabala” berarti “menyeimbangkan”
yaitu proses mengelompokkan jenis/notasi yang sama, pangkat yang
sama apabila terdapat pada ruas kanan maupun ruas kiri dalam suatu
persamaan. Contoh, dua aplikasi al-muqabala adalah menyederhanakan
50 + 3x + x² = 29 + 10 x menjadi 21 + x² = 7x (aplikasi
pertama terkait dengan bilangan-bilangan dan aplikasi kedua terkait
dengan akar)
Aplikasi aksioma
Al-Khwarizmi juga menunjukkan bagaimana menggunakan keenam persamaan
di atas untuk menggabungkan solusi methode aljabar dan methode
geometri. Sebagai contoh untuk memecahkan persamaan x² +
10x = 39, dia menuliskan prosedur:
…
Suatu akar kuadrat ditambah 10 sama dengan 39 unit, yang dapat
dijabarkan ke dalam bentuk persamaan: apa yang akan terjadi apabila
suatu kuadrat ditambah 10 akan diperoleh 39?. Cara untuk mengurai
persamaan ini digambil dari salah satu aksioma di atas. Sumber
problem adalah angka 10. Ambil angka 5, dan kuadratkan diperoleh
25, ditambah dengan 39 diperoleh 64. Akar dari angka ini adalah
8, kurangilah dengan angka awal, 5, diperoleh sisa 3. Angka 3
adalah hasil akar, jika dikuadratkan diperoleh 9. Luas bujur sangkar
adalah 9.
Pembuktian
geometrik dapat dilakukan dengan cara di bawah ini. Al-Khwarizmi
mulai dengan mengandaikan sisi bujur sangkar adalah x dan luas
bujur sangkar adalah x² (gambar 1). Bujur sangkar itu kita
tambah dengan 10x yang dilakukan dengan menambahkan secara sama
terhadap keempat sisinya, dimana masing-masing 10/4 atau 5/2 dengan
lebar x pada setiap sisinya (gambar 2). Bidang diarsir (Gambar
3) mempunyai luas x² + 10x, dimana sama dengan 39. Kita melengkapi
agar bentuk bujur sangkar menjadi lengkap dengan 4 bujur sangkar
kecil yang luasnya sama, masing-masing 5/2 × 5/2 = 25/4.
Luas bujur sangkar (gambar 3) adalah 4 × 25/4 + 39 = 25
+ 39 = 64. Panjang sisi bujur sangkar adalah akar 64 atau sama
dengan 8. Apabila sisi bujur sangar adalah 8, dimana 5/2 + x +
5/2 atau x + 5 = 8, diperoleh x = 3.
x
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Kaitan dengan Euclid?
Pembuktian geometrik di atas menjadi sumber polemik diantara para
matematikawan. Tampaknya al-Khwarizmi memahami Element dari Euclid,
karena secara tidak langsung penyelesaian itu mirip dengan yang
termaktub dalam karya Euclid. Dalam masa pemerintahan Harun al-Rashid,
ketika Khwarizmi masih muda, al-Hajjaj ditugaskan mengalihbahasakan
Element Euclid ke dalam bahasa Arab. Al-Hajjaj tidak lain adalah
rekan al-Khwarizmi di Graha Kebijaksanaan. Itu adalah pendapat
bagi yang melihat bahwa karya al-Khwarizmi adalah penjabaran dari
Euclid. Pendapat lain menyebut bahwa tidak ada difinisi, aksioma,
postulat atau contoh-contoh seperti yang diuraikan oleh Euclid
sehingga tidak dapat menggolongkan al-Khwarizmi sebagai pengikut
Euclid. Pendukung pendapat kedua mengemukakan hukum aritmatika
dengan obyek-obyek aljabar. Sebagai contoh, Khawarizmi menunjukkan
bagaimana melakukan perkalian untuk ekspresi seperti:
(a + bx) (c+dx)
Meskipun
tidak ada narasi untuk mengekspresikannya dan tidak ada simbol
yang digunakan, tapi di sini tersirat konsep aljabar dengan akurasi
tinggi: teori linier dan kuadratik dengan satu bilangan tidak
diketahui. Dari sini aljabar dapat dipandang sebagai teori persamaan.
Lebih lanjut al-Khwarizmi memberikan penerapan dan contoh seperti
mencari luas bidang lingkaran, silinder, kerucut dan piramida.
Al-Khwarizmi juga menulis sistem bilangan Hindu-Arabik. Karya
ini menggambarkan Hindu mempunyai sistem bilangan berbasis 1,
2, 3, 4, 5 , 6, 7, 8, 9 dan 0. Pertama kali menggunakan angka
nol dirintis olehnya.
Karya-karya
lainnya
Karya al-Kwarizmi lainnya adalah dalam bidang astronomi. Topik
utama yang disajikan dalam buku “Sindhind zij” adalah
kalender; menghitung posisi matahari, bulan dan planet-planet;
tabel sinus dan tangen; tabel astrologi; memprakirakan terjadinya
gerhana. Karya lain adalah di bidang geologi yang memberi garis
lintang dan garis bujur untuk 2402 tempat-tempat berdasarkan peta
dunia. Buku ini mirip buku Ptolemy Geograpgy yang mencatat juga
kota, gunung, lautan, pulau dan sungai. Manuskrip al-Khwarizmi
lebih rinci untuk wilayah Islam, Afrika dan Timur Jauh. Untuk
benua Eropa diambil dari data Ptolemy.
Selain itu al-Khwarizmi menulis topik-topik seperti penggunaan
astrolabe (pengukur lintasan planet sebelum ditemukan sekstansextant)
untuk mengetahui lintasan matahari dan kalender Yahudi.
Sumbangsih
Kiprah matematikawan Arab ini sungguh luar biasa. Pencetus istilah
aljabar, memberi dasar dan tonggak dalam matematika. Semua itu
membuat dia layak disebut dengan “bapak aljabar”,
bukan Diophantus. Aljabar diajarkannya dengan bentuk-bentuk dasar,
sedang Diophantus banyak berkutat dengan teori bilangan. Aljabar
kemudian dipelajari dan menjadi milik dunia sampai saat ini. Menggabungkan
artimatika dan aljabar. Keduanya penting sebagai sumber utama
pengetahuan matematika selama berabad-abad baik di dunia Timur
maupun di Barat.
Mengenalkan bilangan-bilangan Hindu ke Eropa. Kelak beberapa abad
kemudian bangsa Arab akan melahirkan putra-putra terbaiknya sebagai
matematikawan yang tidak kalah bersaing dengan rekan-rekannya
yang berasal dari benua Eropa.