Archytas
(428 – 347 SM)
Setelah Pythagoras
meninggal, tidak ada lagi peninggalan tersisa dalam bentuk karya-karya
tertulis, namun ide-ide besar dibawa oleh para murid-muridnya.
Mereka yang lolos dari pembantaian membawa doktrin-doktrin ajaran
tersebut ke bagian wilayah lain Yunani. Salah seorang pengungsi
ini adalah Philolaus dari Tarentum. Fanatisme para pengikut Pythagoras
(Pythagorean) ditularkan oleh Philolaus lewat bentuk tetractyis
(segi lima), sama seperti ajaran Pythagoras tentang kosmologi.
Gambar: segi lima
Pandangan ini disebut
dengan Philolean, kemudian dimodifikasi oleh pengikutnya: Ecphantus
dan Hicetas yang mencetuskan geosentris (pandangan bahwa bumi
sebagai pusat alam semesta). Dan yang paling ekstrim dari modifikasi
Philolean dilakukan oleh Archytas, murid Philolaus.
Archytas melanjutkan tradisi Pythagorean dengan menempatkan aritmatika
di atas geometri, tetapi dia tidak lagi terlalu antusias terhadap
angka. Angka tidak lagi dianggap religius dan mistikal dibandingkan
dengan gurunya. Dia menulis aplikasi aritmatika, geometri dan
musik. Pernyataan paling penting dari Archytas adalah nisbah dua
bilangan n : (n+1), disebutkan bahwa hasilnya bukanlah integer
tetapi titik geometri. Archytas lebih banyak berkutat di bidang
musik dibandingkan dengan para pendahulunya.
Kurikulum
Archytas
Archytas menempatkan posisi matematika sebagai kurikulum pendidikan
dengan membagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
- Aritmatika
- Geometri
- Musik
- Astronomi
Digabungkan dengan 3 obyek yang terus dipelajari dari Aristoteles
hingga Zeno, yaitu:
- Tata bahasa
- Retorik (keahlian berpidato)
- Dialektik (terkait dengan dialek)
Tiga-dimensi
versi Archytas
Hal lain tentang Archytas adalah memberikan solusi tiga-dimensi
yang dalam bahasa modern disebut dengan geometri analitik, notasi
akar yang digunakan untuk menuntaskan “keterbatasan”
rumus Pythagoras. Solusi tiga-dimensi Archytas digunakan untuk
menyelesaikan problem Delian yang barangkali mudah untuk diuraikan
tetapi lebih sering disebut mendahului jamannya. Misal: a adalah
sisi sebuah kubus, dan titik (a, 0, 0) adalah titik pusat bidang
yang saling bersilangan secara tegak lurus dengan lingkaran berjari-jari
a terletak didalamnya yang tegak lurus dengan koordinat. Persamaan
dengan tiga sisi x² = y² + z² dan 2 ax = x²
+ y² dan (x² + y² + z²)² = 4a²(x²
+ y²). Ketiga bidang saling bersinggungan/berpotongan pada
sumbu x pada titik a ³√12; merupakan, panjang potongan garis
pada kubus. Prestasi Archytas lebih impresif saat kita melihat
bahwa solusi yang diberikan tanpa menggunakan bantuan sistem koordinat.
Sumbangsih
Solusi tiga-dimensi dari Archytas mampu memberi gambaran awal
tentang terjadinya sistem ordinat dan absis (Kartesian), meskipun
di sini sudah membahas tiga-dimensi yang dapat dikatakan sebagai
non-Euclidian. Pada masa Euclidian dianggap salah, namun dengan
tampilnya non-Euclidian makin lengkaplah [peralatan] matematika
agar mempunyai kemampuan menyelesaikan problem-problem yang dihadapi
sehari-hari. Kelak sistem ini dikembangkan lebih jauh oleh Lobachevsky,
Bolyai, Riemann dan menjadi dasar teori relativitas dari Einstein,
karena ternyata Euclidian sudah tidak mampu lagi digunakan untuk
menggambarkan fenomena yang terjadi. Memasukkan musik dalam kurikulum
dapat disebut salah satu jasanya, sekaligus menjadi bukti bahwa
musik tidak jauh berbeda dengan matematika.