“Matematika
adalah ratu ilmu pengetahuan dan teori bilangan adalah ratu matematika”
(Mathematics is the Queen of the Sciences and Number Theory the
Queen of Mathematics)
Carl
Friedrich Gauss
Carl
Friedrich Gauss
(1777– 1855)
Masa
kecil
Pada tahun 1777, lahirlah seorang anak jenius di Brunswick, Jerman.
Gauss adalah nama anak itu. Orang tua Gauss adalah orang yang
tidak berkecukupan. Kakek Gauss adalah petani miskin yang menetap
di Brunswick sejak tahun 1740 yang bertahan hidup dengan menjadi
tukang kebun. Anak kedua dari kakek ini, Gerhard Diederich, lahir
tahun 1744 adalah ayahanda Gauss. Sehari-hari Gerhard bekerja
lepas sebagai tukang kebun, menggali salokan dan terkadang menjadi
tukang batu. Dorothea Benz, ibunda Gauss, adalah anak tukang perancah
batu. Dorothea mempunyai adik laki, Friedrich, yang sangat cerdas
dan selalu berupaya meningkatkan taraf hidupnya dengan menjadi
pedagang taplak meja hasil tenunan. Friedrich adalah orang yang
pertama kali mengenali bakat si genius kecil ini yang muncul sejak
umur 3 tahun. Memahami kehebatan otak keponakannya ini, dia mengajarkan
logika kepada Gauss, melakukan observasi terhadap obyek-obyek
tertentu dan falsafah hidup. Semua dengan cepat mampu dipahami
karena kemampuan otak fotografik Gauss.
Perilaku Gerhard yang kasar terhadap Gauss kecil ini selalu dihalangi
oleh ibunya, meskipun mereka berdua berupaya keras jangan sampai
Gauss kecil “mewarisi” profesi keluarga sebagai tukang
kebun. Segala upaya dilakukan oleh Dorothea agar Gauss kecil dapat
menggunakan kemampuannya secara optimal. Ketika Gauss berumur
19 tahun, Dorothea bertanya kepada matematikawan teman anaknya,
Wolfgang Bolyai, tentang anaknya. Langsung menangis setelah mendengar
jawaban Bolyai, “Gauss adalah matematikawan terbesar di
Eropa.”
Selama 24 tahun, sebelum meninggal, Dorothea tinggal di rumah
Gauss. Ketenaran tidak ada artinya bagi Gauss. Semua dipersembahkan
untuk ibunya yang selalu melindunginya sejak kecil. Ketika ibunya
buta, Gauss tetap merawat sampai meninggal pada tahun 1839 dalam
usia 97 tahun. Peran dari ibu dan pamannya, Friedrich, sangatlah
besar bagi Gauss.
Genius
kecil
Berbeda dengan Archimedes atau Newton, Gauss menonjol sejak muda
usia. Gauss menunjukkan kalibernya sejak umur tiga tahun. Saat
ayahnya menerima upah mingguan yang sedang dihitung karena lembur,
Gauss kecil ada dibelakangnya. Gerhard menerima upahnya tanpa
menghitung, namun Gauss kecil menyebut bahwa perhitungan itu salah.
Setelah dihitung ulang ternyata angka yang disebut Gauss kecil
adalah yang benar. Genius kecil ini belajar membaca sama misterius
dan sama mudahnya seperti dia belajar menjumlah. Sang ayah mengajari
abjad, dimana dengan pengetahuan ini, Gauss belajar membaca sendiri.
Tidak ada prestasi menonjol dari Gauss sampai usia sepuluh tahun.
Setelah memasuki pelajaran aritmatika, bakatnya mulai muncul.
Umur 7 tahun, Carl dikirim ke sekolah lokal, dimana guru merupakan
tirani yang hanya tahu melecut dengan cemeti guna mengajar anak.
Suatu hari, untuk menjaga agar murid tetap sibuk, diberikan perintah
agar semua anak menjumlah angka sebanyak 100 mulai dari 81297
+ 91495 + 81693 + … + 100899. Semua angka mempunyai selisih
198. Setiap murid selesai, ditaruhkan batu tulis di atas meja
guru; Guru itu, Buttner, menjelaskan hasilnya, Gauss meletakkan
batu tulis di atas meja sambil berkata, “Itu salah.”
Saat semua teman sekolahnya ke luar kelas, Gauss duduk dengan
tangan terlipat, yang dipandang sinis oleh Buttner sambil berpikir,
“Murid paling muda ini ternyata anak bodoh.” Guru
itu melihat batu tulis Gauss yang tertulis sebuah angka. Setelah
sekolah usai, Buttner akhirnya menyebutkan bahwa jawaban Gauss
yang benar.
Terkejut dengan peristiwa ini, Buttner merelakan uang gajinya
untuk membeli buku teks terbaik tentang aritmatika dan memberikan
kepada Gauss sambil mengatakan, “Saya tidak dapat mengajar
anak ini lagi.” Tidak sanggup lagi mengajari dan mengalihkan
tanggung jawab ke asisten muda, Johann Martin Bartels [1969 –
1836]. Persahabatan remaja usia 17 tahun dengan anak 10 tahun
ini berlangsung selama hidup Bartels. Mereka belajar bersama,
saling membantu dan menulis pembuktian-pembuktian dalam bidang
aljabar dan analisis dasar yang ada dalam semua buku teks.
Sedangkan Buttner, kemudian, berbicara kepada ayah Gauss untuk
pendidikan lanjut anak genius ini. Mengetahui kenyataan ini, Gerhard
mengubah rencana, dari keinginan semula menjadikan Gauss sebagai
pedagang atau pekerja, berubah menjadi dokter atau pengacara bahkan
profesor. Ada legenda yang menyatakan bahwa begitu sampai di rumah,
setelah mendengar berita itu, Gerhard langsung merusak alat tenun
yang biasa digunakan Gauss untuk membantu Friedrich menenum agar
anak itu tidak dapat menggunakan lagi.
Mulai saat itu, Gauss menghabiskan banyak waktu untuk belajar.
Saat malam tiba, dia berhenti belajar karena gelap dan tidur,
karena tidak mampu membeli lilin untuk penerangan di malam hari.
Kendala ini akhirnya dapat diatasi oleh Gauss dengan membuat lampu
dari daun turnip yang diisi dengan minyak diberi sumbu terbuat
dari kain perca bekas.
Mendapat
“bea siswa”
Kejeniusan Gauss, laksana dongeng ini, terdengar oleh bangsawan
Brunswick (Duke of Brunswick) bernama Ferdinand. Terkesima dengan
berita itu, langsung mengirim pelayan agar mengundang Gaussl untuk
tinggal di purinya. Pelayan yang kebingungan mencari alamat Gauss
ini bertanya kepada saudara tiri Carl, Georg, bahwa Gauss dicari
oleh Ferdinand. Georg protes bahwa barangkali salah orang, namun
setelah dijelaskan akhirnya Georg mengantar pelayan itu menemui
Gauss. Hubungan antara bangsawan ini dengan Gauss bertahan sampai
bangsawan itu meninggal. Beberapa tahun kemudian, Gauss menjadi
matematikawan terkenal di dunia, Georg sering mengatakan bahwa
“Saya menjadi profesor; tawaran pertama datang kepada saya
tapi saya tidak mau tinggal di puri.” Georg menjadi penjahit,
setelah menjadi prajurit, dan pensiun menjadi tukang kebun.
Umur 12 tahun, Gauss sudah berani mempertanyakan dasar-dasar geometri
Euclidian. Umur 15 tahun, Gauss sudah belajar di College, semua
biaya ditanggung oleh Ferdinand, dengan mengambil jurusan bahasa
kuno dan bahasa modern serta matematika – Gerhard menyebut
dengan bidang yang tidak membumi. Umur 16 tahun mulai menggagas
geometri selain Euclid. Setahun berikutnya mencari “lubang-lubang”
pembuktian teori bilangan yang memuaskan pada pendahulunya, namun
dianggap hanya karya setengah jalan, sebelum memasuki bidang favorit,
aritmatika. Tiga tahun kemudian, Gauss masuk universitas Gottingen,
dan belum dapat memutuskan jurusan matematika atau jurusan bahasa
yang akan dipilih. Keputusan memilih bidang matematika terjadi
pada tanggal 30 Meret 1796, dimana pada hari itu Gauss menemukan
cara membuat poligon 17 sisi dengan menggunakan kompas dan penggaris.
Cara menggunakan kompas dan penggaris dimulai sejak jaman Archimedes
ini, namun cara menggambar poligon ini baru ditemukan oleh Gauss.
Penemuan ini dianggap sebagai salah satu penemuan terbesar dari
Gauss. Keputusan besar dan benar ini kemudian diikuti dengan janjinya
untuk membuat catatan harian matematika yang diisi dengan ide-ide
atau problem-problem yang melintas di kepala setiap hari. Dalam
buku itu pula tertulis bahwa kemungkinan adanya geometri non-Euclidian;
membuat perubahan besar dalam aritmatika; merombak teori bilangan;
proses menemukan grafik dari bilangan kompleks dan membuktikan
theorema dasar aljabar. Gauss remaja, seperti halnya Newton, adalah
masa penuh ide dan sangat kreatif.
Karya
pertama setelah lulus
Di universitas Gottingen, karya Gauss dapat diperbandingkan dengan
karya para matematikawan lain dan hasilnya memang mencolok. Semakin
dia membandingkan akhirnya dia menyadari bahwa dia adalah seorang
matematikawan besar. Gauss selalu menyimpan semua penemuannya
dan menyesal bahwa tidak seorangpun dapat berdiskusi tentang teori-teori
yang menarik hatinya. Salah seorang teman baiknya di universitas
adalah Wolfgang Bolyai, bangsawan Hongaria yang kelak anak lakinya
[Janos Bolyai] menemukan geometri non-Euclidian. Bolyai sendiri
mengagumi kejeniusan Gauss dan pernah mengunjungi rumah Gauss
di Brunswick setelah ditanya oleh ibu Gauss, dengan jawaban bahwa,
“Gauss adalah matematikawan terkemuka di Eropa.”
Umur 21 tahun, Gauss meninggalkan universitas dengan ucapan perpisahan
dari Bolyai, ”Dituntun malaikat yang memberinya ketenaran
dan kejayaan,” dan kembali ke Brunswick. Gauss tidak suka
dengan ayahnya yang dianggapnya ingin mendominasi, kasar dan berkelakuan
buruk, sehingga tinggal di rumah lain. Tidak lama setelah itu
menulis surat kepada Bolyai yang menyebutkan bahwa saya tidak
punya uang lagi. Mendengar keluhan ini Ferdinand mengirim uang
dan menjamin bahwa Gauss jangan pernah berpikir tentang uang lagi.
Beberapa bulan di rumah, Gauss pulang pergi ke Helmstedt, dimana
dia belajar di perpustakaan. Perpustakaan milik universitas Helmstedt
dikelola oleh matematikawan sekaligus pusatakawan, Johann Friedrich
Pfaff [1765 – 8125], adalah paling lengkap untuk topik-topik
matematika. Antar keduanya kemudian terjalin persahabatan. Pfaff,
yang dikagumi oleh Gauss, kemudian disebut sebagai matematikawan
paling terkenal di Jerman bukan karena keahlian matematika, tapi
untuk kesederhanaan dan sikap terbuka.
Tidak lama makalah teori bilangan yang sudah pernah dirintisnya
di Gottingen diterbitkan dengan judul Disquisitiones Arithmeticae,
setelah tertunda selama tiga tahun akhirnya dicetak dan diterbitkan
pada tahun 1801.
Disertasi
Nama Gauss mulai terkenal sehingga merencanakan menggunakan bahan-bahan
dalam buku itu untuk disertasi doktoral, namun pihak penerbit
menolak. Dicari judul lain sebelum akhirnya didapat judul panjang,
Demonstratio nova theorematis omnem functionem algebraicam rationalem
integram unius variabilis in factores reales primi vel secundi
gradus revolvi posse yang terbit lebih awal, tahun 1799. Isi tesis
doktoral adalah membuktikan theorema dasar aljabar – membuktikan
bahwa polinomial pangkat n (kuadrat adalah pangkat 2 dan kubik
adalah pangkat 3, quartik adalah pangkat 4 dan seterusnya) mempunyai
(hasil) akar pangkat n juga. Hal tersebut baru valid (sahih) apabila
perlakuan terhadap bilangan imajiner sama seperti bilangan riil.
Untuk bilangan riil:
x4 + 2x³ + 9 = 0 akan mempunyai 4 hasil (bilangan) akar
x³ + x² + 2x + 4 = 0 akan mempunyai 3 hasil (bilangan)
akar.
Untuk bilangan imajiner:
x² + 4 = 0 tidak dapat diselesaikan apabila bilangan riil
yang dipakai.
Hasil yang diperoleh
adalah x = ± √-4, atau x = ± 2√-1. Seperti dinyatakan
oleh Euler bahwa ekspresi √- 1 dan √-2 tidak dimungkinkan atau
merupakan bilangan-bilangan imajiner, karena akar bilangan adalah
negatif; sesuatu tidak ada apa-apa (nothing) karena bukan bilangan
dan bukan pula bilangan yang lebih besar dari sesuatu tidak ada
(nothing).* Gauss menyatakan bahwa bilangan negatif juga termasuk
dalam sistim bilangan.
Tidak lama setelah terbitnya Disquisitiones Arithmeticae, Gauss
menjadi pengajar dan menulis makalah singkat berjudul The Metaphysics
of Mathematics, yang disebut sebagai salah satu uraian singkat
dan jelas yang pernah ditulis tentang dasar-dasar matematika.
Penyederhanaan ini dimaksudkan pada keyakinan bahwa akan memudahkan
mahasiswa belajar matematika.
Sistem
bilangan
Gauss membagi bilangan dimulai dari bilangan kompleks. Dari bilangan
kompleks itu kemudian diturunkan bilangan-bilangan lain. Bilangan
riil, sebagai contoh, sebenarnya adalah bilangan dalam bentuk
a + bi, dimana a adalah bilangan riil dan b = nol; bilangan imajiner
adalah bilangan kompleks yang mempunyai bentuk sama dengan a =
nol dan b adalah bilangan riil. Untuk memudahkan penjelasan diberikan
diagram di bawah ini.
gambar : Bilangan.vsd
(visio)
Keberadaan bilangan
kompleks tidak hanya mempengaruhi aljabar, tapi juga berdampak
pada analisis dan geometri. Teori fungsi dari bilangan kompleks
kemudian dikembangkan; geometri diferensial [angka] mutlak dan
analisis vektor – sangat vital bagi sains modern –
berkembang sehingga dikenal bilangan-bilangan setengah-riil dan
setengah-imajiner.
Bilangan kompleks dapat ditambah, dikurang, dikali, dibagi, dipangkat
atau dicari hasil akarnya dalam kasus dimana bilangan kompleks
dalam bentuk a + bi – meskipun a, b atau keduanya mungkin
sama dengan nol. Bilangan baru dapat dibuat untuk melakukan operasi
terhadap bilangan-bilangan kompleks. Sistem bilangan aljabar lama
sekarang tertutup, untuk penggunaan bilangan-bilangan kompleks,
semua bentuk persamaan dapat diselesaikan dan semua jenis operasi
dapat dilakukan. Prestasi penutupan sistem matematika ** ini adalah
misi manusia terus mencari-cari sejak jaman Pythagoras.
Pencarian ini sama seperti pencarian dalam bidang sains lainnya.
Dalam bidang kimia, sebagai contoh, ditemukan sistem berkala unsur
mulai dari Hidrogen (nomor 1) sampai dengan Lawrensium (nomor
103). Begitu pula dalam bidang fisika, setelah ditemukan atom,
ternyata dapat dipilah lagi menjadi elektron, proton dan neutron.
Deret tidak terhingga yang terus membesar seperti 1 + 2 + 4 +
8 + …menggoda hati Gauss, yaitu bagaimana menghitung eskpresi
matematika (fungsi) untuk menggambarkannya. Pada analis sebelumnya
tidak dapat menjelaskan misteri ini, proses menuju ketakterhinggaan.
Tidak puas dengan apa yang tertulis pada buku teks, Gauss menyiapkan
pembuktian. Awal yang membuat Gauss berkutat dengan analisis.
Metode Gauss ini mengubah seluruh aspek matematika.
Menekuni
astronomi
Sangat disayangkan, energi matematika Gauss sempat terhenti pada
usia 24 tahun. Minat terhadap matematika berubah menjadi astronomi.
Hal ini tidak dapat dihindari karena tidak ada universitas yang
menghargai bakat-bakat matematikanya yang terus dirongrong kesulitan
finansial – tidak dapat mengharapkan bangsawan Brunswick
terus menerus memberi subsidi – dia mengambil jalan cepat
meraih prestasi akademik, ketenaran dan tentunya uang lewat astronomi.
Saat itu telah diketahui beberapa planet kecil dan di sini Gauss
berupaya menghitung orbit dengan matematika. Gayung bersambut
karena pada tahun 1801, Akademi Sains St. Peterburg menunjuk Gauss
menjadi direktur observatorium. Mendengar kabar ini bangsawan
Brunswick menaikkan uang “jajan” Gauss serta berjanji
membangun observatorium yang sama di Brunswick. Tawaran pihak
Rusia ditolak oleh Gauss karena loyalitas ini. Para matamatikawan
terkemuka Eropa membuat pernyataan dan mendaulat agar Gauss diterima
di universitas Gottingen. Negosiasi ini berjalan alot, lima tahun
kemudian, baru disetujui, sedang Gauss sendiri terus melakukan
penelitian astronomi di Brunswick.
Gauss selalu mengalami kesulitan menjadi seorang pengajar. Cara
pandangnya yang kelewat jauh membuat siswa-siswanya frustrasi.
Sebaliknya, Gauss menganggap siswa-siswanya tidak pernah siap
menghadapi kuliahnya. Buku karya Gauss juga sulit dipahami dimana
salah seorang yang mampu memecahkannya adalah teman sekaligus
murid Gauss, [Peter Gustav Lejeune] Dirichlet (1803 – 1859).
Wafatnya
pemberi subsidi
Masa penantian diterima di Universitas Gottingen rupanya membawa
Gauss berkenalan dengan gadis cantik bernama Johanna Osthoff,
anak perempuan seorang penyamak kulit kaya-raya. Cinta pertama
Gauss terjadi pada pandangan pertama dan menyatakan bahwa. “Dialah
wanita yang selalu saya dambakan sebagai teman hidup.” Gauss
mengumpulan uang dan keberanian sebelum menyatakan hal ini dua
tahun kemudian. Pihak Johanna, tidak tinggal diam, mereka mendengar
bahwa Gauss sudah bertunangan dengan seseorang, dan sempat menunda
permohonan Gauss selama tiga bulan. Mereka menikah pada tahun
1805, dan setahun kemudian lahirlah Joseph, yang disambut dengan
gembira oleh Gauss. Disusul dengan anak kedua, Minna dan anak
ketiga, Louis.
Antusias kerjanya meningkat dan reputasi bahkan mencapai Rusia.
Bersamaan dengan hal ini Napoleon mulai menyerbu Eropa. Jerman,
saat itu, dapat dengan mudah ditaklukkan dan dibentuk konfederasi
Rhine. Hanya Prusia yang tetap merdeka. Tahun 1806, Frederich
William III mengerahkan prajurit melawan Napoleon di bawah komando
bangsawan Brunswick yang diangkat menjadi jenderal. Empat-belas
tahun kemudian, bangsawan ini mengepalai tentara dari Austria
dan Prusia menuju Perancis untuk menyelamatkan mahkota dari perebutan
kekuasaan raja dengan kaum revolusioner. Serangan gagal dan ditaklukkan
di dekat Jena. Dua-belas ribu pasukan Prusia ditawan, sedangkan
bangsawan itu luka parah terkena peluru. Bangsawan kembali ke
Brunswick dengan pengawalan ketat, dan Gauss hanya dapat melihat
iring-iringan lewat jendela. Gauss memandang sosok orang yang
menjadi teman, idola, penasihat, lebih berperan sebagai ayah dibanding
ayah kandungnya. November 1806, bangsawan itu wafat dengan tenang,
namun sangat mempengaruhi jiwa Gauss, yang kemudian merasa takut
akan kekerasan dan kematian.
Mengalami
musibah
Tahun 1807, setahun setelah meninggalnya Ferdinand, Gauss memboyong
keluarganya ke Gottingen dimana dia diangkat menjadi direktur
observatorium. Sebuah ironi sejarah, Napoleon tidak menyerbu Brunswick
karena “matematikawan terkemuka sepanjang waktu tinggal
di sana”, namun membuat penyandang dana pendidikan Gauss,
meninggal. Peristiwa ini kelak membuat Jerman – bersama
Inggris - berperang dengan emosi tinggi dan mampu mengalahkan
Napoleon di Waterloo. Karena Brunswick tidak diserang, Napoleon
meminta 2000 frank kepada Gauss sebagai “uang” kampanye.
Gauss yang rudin tidak mampu membayar, sebelum akhirnya dibayar
oleh Laplace.
Kematian Ferdinand ternyata adalah awal keterpurukan Gauss. Kurang
dari tiga tahun sejak itu, ayah kandung; pamannya Friedrich; istrinya;
anak ketiga dan anak bungsu semuanya meninggal.
Hidup tanpa subsidi lagi, membuat teman dan keluarga selalu mencerca
bahwa daripada membuang waktu untuk riset lebih baik cari uang.
Musibah ini dicatat dalam buku harian: “Kematian lebih dekat
denganku dibandingkan dengan hidup.” Tahun 1809, istrinya
meninggal. Namun kurang dari satu tahun kemudian, Gauss menikah
dengan Friederica Wilhelmine Waldeck, anak rekan sesama profesor
di Gottingen. Selama 6 tahun, istri kedua ini, memberinya tiga
orang anak: Eugene, Wilhelm dan Therese, sebelum divonis terkena
TBC. Ibunya yang sudah renta dan janda diundang Gauss untuk tinggal
di rumah, sambil mengurus istri yang selalu di tempat tidur serta
mengasuh ketiga anak balita. Konsentrasi luar biasa dialaminya
ketika istrinya, selalu di tempat tidur, akhirnya meninggal pada
tahun 1831. Meskipun pelayan memanggil untuk memberitahu tapi
Gauss hanya menjawab “Tunggu sebentar.” Daya konsentrasi
Gauss yang luar biasa ini dapat disamakan dengan Archimedes dan
Newton yang sudah kita ketahui bersama.
Kurva
Gauss
Meskipun tetap melakukan penelitian tentang geodesi dan menulis
setiap hari, namun diakuinya bahwa matanya lebih sering tertutup
pada malam hari.
Penelitian geodesi selesai dalam kurun 10 tahun, antara tahun
1820 – 1830. Luar biasa hasil matematika lewat penelitian
itu. Geometri diferential, teori-teori permukaan bidang, statistik,
teori probabilitas. Sumbangsih Gauss dalam teori probabilitas
adalah kurva Gaussian yang sering disebut dengan hukum Gauss tentang
distribusi normal atau yang sekarang lebih dikenal dengan kurva
berbentuk lonceng. Kesalahan (error) akan terkumpul setengah di
sisi kiri dan setengah di sisi kanan kurva. Kesalahan-kesalahan
“insidentil” dapat disebut dengan insiden-insiden,
menurut Gauss, selalu terjadi dengan frekuensi yang dapat diprediksi
terlebih dahulu menurut matematika. Makin besar sampel, makin
akurat prediksi kesalahan-kesalahan yang akan terjadi.
Aplikasi kurva atau hukum ini ternyata tidak hanya sampai di sini.
Ilmuwan-ilmuwan akhirnya menemukan bahwa bukan hanya kesalahan-kesalahan
dalam disiplin ilmu tertentu, namun hampir semua fenomena mengikuti
hukum ini. Sebagai contoh, tinggi orang, kecerdasan dan kemampuan-kemampuan
lain bahkan manipulasi pasar modal cocok dengan kurva berbentuk
lonceng ini. Hubungan antara penelitian tentang kontur (contour)
permukaan bumi dan mempelajari bilangan-bilangan tampaknya tidak
ada gunanya. Namun dalam kenyataan ada benang merah yaitu keduanya
masuk dalam bidang yang teba (skope) luar biasa luasnya yaitu
matematika terapan.
Seorang perfeksionis
Gauss adalah seorang perfeksionis. Keinginan ini mempengaruhi
metode dan subyek. Makalah-makalah karyanya adalah sebuah contoh.
Theorema-theorema akan dibuktikan dengan akurasi tinggi dan elegan,
dengan segala rincian dan prosedur yang lengkap. Akibatnya adalah
buah karyanya sulit dipahami, dibandingkan dengan karya Euler
yang gamblang, imajinatif dan lebih mengutamakan kejelasan. Tampak
seperti paradoks. Pikiran seorang matematikawan tidak selalu seperti
menarik garis lurus. Dapat lompat ke depan, kembali ke belakang
dan kembali melompat. Jika dihadapkan dengan logika kaku, terjadi
benturan atau saling berbelit dalam mata “rantai”
dalih-dalih mendasar. Gauss tidak akan mengeluarkan karyanya sebelum
segalanya sempurna, seperti yang diucapkan, “Saya tidak
puas dengan solusi-solusi yang tidak sempurna. Tanpa kegembiraan
dan serasa menyiksa.” Makin tua Gauss makin sedikit karya-karya
yang diterbitkan. Orang menyebut dirinya egois serta tidak mau
membantu atau memberi dukungan kepada para matematikawan muda.
Semasa hidupnya banyak karya matematika baik teori maupun terapan.
Aljabar, geometri, analisis, aritmatika atau teori bilangan adalah
bidang-bidang yang dikembangkan oleh Gauss. Sebagai tambahan,
secara teori, Gauss juga mendalami astronomi, magnetisme, topologi,
kristalografi, optik dan elektrik. Pada tahun 1833, Gauss memperagakan
mengirim sinyal-sinyal telegrafik – sebelum dikembangkan
oleh Samuel Morse. tiga tahun kemudian. Laplace menyebut Gauss
sebagai matematikawan terbesar di dunia. Sedangkan kalangan raja
memberi gelar “Pangeran matematika.”
Anak-anaknya
Sukses profesional Gauss mengimbangai tragedi dan kegagalan. Penjelajahan
matematika adalah cerminan dari prestasi sekaligus cara melupakan
tragedi-tragedi yang menimpa dirinya. Murid kesayangannya, Einsenstein,
yang selalu dipuji lebih hebat dari Archimedes dan Newton meninggal
pada usia muda. Tahun 1837, anak kedua – dari istri pertama
- diusir dari Gottingen karena suaminya terlibat aktivitas politik.
Bersama menantu dan anak perempuan Gauss ini adalah teman sejawat
Gauss, Wilhelm Weber dan dua bersaudara Grimm. Tiga tahun kemudian
putrinya meninggal dalam pelarian. Gauss mendukung Eugene menekuni
bidang hukum tetapi akhirnya anak ini menjadi pembangkang, seorang
penjudi kalah yang selalu mengirim tagihan kepada bapaknya. Akhirnya,
Eugene minggat ke Amerika sebelum menjadi bankir terkemuka di
sana. Wilhelm menyusul kakaknya ke Amerika yang berakhir dengan
menjadi jutawan. Akhirnya Gauss tinggal bersama anak terakhirnya,
Therese, dengan hidup sederhana. Tidak punya kesenangan dan pergaulan,
tidak suka barang mewah, menyediakan barang-barang seperlunya
untuk sang ayahanda. Meja tulis kecil dengan permukaan berwarna
hijau, lemari kecil, lampu baca dana kamar tidur tanpa pemanas
dan makan seadanya adalah ciri-ciri Gauss yang tidak berubah sejak
muda sampai menjelang wafatnya.
Joseph, anak sulung Gauss dari istri pertama, yang tidak bermasalah,
menikah dan meninggalkan rumah pada tahun 1840. Sebenarnya Joseph
mewarisi sebagian keahlian ayahnya dalam bidang matematika tetapi
tidak pernah dikembangkan. Hanya anak ini yang tidak pernah meninggalkan
Jerman dan tidak pernah mengecewakan hatinya.
Masa-masa
tua
Masa-masa tua dihabiskan dengan setiap pagi berada di perpustakaan
universitas, mengumpulan koran-koran dari seluruh daratan Eropa,
mulai dari Times terbitan London sampai koran lokal ditumpuk dan
dibaca satu per satu. Mahasiswa yang lewat melihat dengan curi-curi
pandang orang tua berambut perak adalah genius dari Gottingen.
Kawan-kawan dan rekan-rekan sering datang berkunjung. Terakhir,
sering mengeluhkan kesehatan yang memburuk, insomnia, dan dyspepsia.
Pada usia 77 tahun, Gauss mengalami pembengkakan jantung, dan
terpaksa setiap jam 3 dini hari, bangun dan harus minum air soda
dan susu hangat untuk meringankan sakitnya. Nafasnya pendek sehingga
tidak mampu jalan ke purpustakaan lagi bahkan ke luar rumah. Pada
tanggal 23 Februari 1855, setelah suatu serangan jantung, Gauss
wafat. Jam sakunya berhenti hampir bersamaan dengan Gauss menghembuskan
nafas terakhir. Gauss dikebumikan di pemakaman St. Albans di Gottingen,
berdekatan dengan makam ibunya. Seperti halnya Newton, Gauss adalah
orang kaya meskipun dengan gaji pas-pasan. Uang dari hasil investasi-investasi
yang bijak, tersembunyi hampir di seluruh rumahnya – pada
lemari baju, laci meja kerja, cukup besar untuk ukuran jaman itu.
Tetapi ingatlah selalu bahwa warisan Gauss yang dapat dinikmati
semua orang adalah: matematika. Buku harian Gauss disirkulasikan
pada tahun 1898, 43 tahun setelah kematiannya, atas prakarsa Royal
Society Gottingen dengan meminjam dari cucu Gauss untuk dipelajari.
*) Pernyataan ini lazim pada jaman itu. Misal: Orang tidak mempunyai
buah apel, mengapa jika ada orang meminta 3 apel padanya, maka
orang itu menjadi minus 3 apel. Logika inilah yang mendasari alasan
di atas. Angka nol belum dikenal dan tabu digunakan karena menunjuk
kepada Tuhan. Masuknya angka 0 ke Eropa karena peran penyebaran
agama Islam yang mengadopsi sistem angka itu dari Arab dan Hindu.
Secara lengkap tulisan tentang ini dapat dibaca dari Seife, Charles.
Zero, The Biography of a Dangerous Idea. Penguin Books, New York,
2000.
**) Menutup di sini diartikan bahwa sudah ada keseragaman dan
lengkap terminologi dalam matematika sehingga setiap orang tidak
dapat secara bebas membuat terminologi baru yang terkait dengan
bilangan.
Sumbangsih
Tidak terhitung sumbangsih Gauss dalam perkembangan matematika,
pada umumnya dan bidang-bidang ilmu lain pada khususnya. Pemilahan
dengan menggunakan sistem bilangan, statistik dan teori probabilitas
lewat penemuan kurva lonceng adalah dua prestasi sangat penting
yang mampu dicapai oleh Gauss. Dasar-dasar yang ditetapkan Gauss
dalam matematika banyak memberi dampak bagi perkembangan matematika
setelah dia meninggal. Salah satunya adalah geometri non-Euclidian
yang kelak mendasari teori relativitas Einstein setelah lewat
sentuhan Riemann, Lobachevski dan Bolyai.
Rupanya Gauss tidak puas hanya berkiprah dalam bidang matematika.
Banyak disiplin ilmu-ilmu lain dijelajahi. Tujuan utama, barangkali,
sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan menjadi pengajar
atau profesi yang gaji rutin. Akhirnya kesinambungan “aliran“
uang ini membuat Gauss makin intensif lagi melakukan penelitian
matematika. Kolaborasi dengan Wilhelm Weber [1804 - 1891] menemukan
telegraf elektrik dan fenomena elektromagnetik yang gagal sebelum
dilanjutkan bekerjasama dengan Clark Maxwell [1831 – 1879]
yang menemukan persamaan medan elektromagnetik; dengan Friedrich
Wilhelm Bessel [1784 –8146] membahas astronomi.
Matematika fisika untuk aplikasi dalam bidang elektrostatik, hidrodinamis,
aerodinamis, orbit planet, sistem lensa, dan ditemukannya geometri
diferensial.
Sifat perfeksionis ini terkadang mendapat kritik keras. Tanpa
mau mengungkapkan penelitiannya, jika belum sempurna, dianggap
oleh kalangan ilmuwan sebagai suatu egoisme. Mereka memandang
akan lebih baik diungkapkan semua agar perkembangan matematika
makin pesat. Hal ini membuat timbulnya pernyataan, “Apabila
Gauss lebih terbuka, maka matematika akan lebih maju beberapa
dasa warsa ke depan.” Meskipun jika lebih jeli melihat permasalahan,
bukan hanya hal itu penyebabnya. Kondisi perang dan tragedi yang
silih berganti mendera Gauss adalah penyebab utama semua itu.