Kebenaran
matematikal bukan hanya sederhana ataupun menjadi sangat rumit.
Memang begitu adanya.
(A mathematical truth is neither simple nor complicated in itself.
It is.)
Emile
Lemoine
Matematikawan anak seorang bankir
Carl
Gustav Jacob Jacobi
(1804 – 1851)
Masa
kecil
Carl Jacobi berasal dari keluarga Jahudi meski pada saat lahir
sempat diberi nama ala Perancis, Jacques Simon. Ayahnya, Simon
Jacobi, adalah seorang bankir dan keluarganya termasuk keluarga
kaya raya. Ibu Jacobi berwarga Lehmann. Lahir di akhir tahun tahun
1804 di Postdam, Prussia, Jerman. Anak kedua ini mempunyai kakak
laki Moritz, adik laki Eduard dan adik perempuan Therese. Moritz,
kelak menjadi fisikawan terkenal. Eduard meneruskan profesi sang
ayah, menjadi seorang bankir sedang profesi Therese tidak diketahui.
Pendidikan awal Jacobi justru diperoleh dari paman dari pihak
ibunya yang mengajar [ilmu] klasik dan matematika sebagai persiapan
masuk Postdam Gymnasium untuk kemudian mendaftar di universitas
Berlin. Seperti Gauss, Jacobi mempunyai kemampuan lebih dalam
bidang bahasa dan matematika. Seorang guru, Heinrich Bauer, melihat
bakat genius matematika anak ini dengan membiarkan Jacobi belajar
dan membuktikan theorema-theorema. Tidak lama Jacobi mulai mempelajari
karya-karya pendahulunya seperti Euler dan Lagrange tentang aljabar
dan kalkulus sampai teori bilangan.
Lulus pada sekolah menengah pada umur 12 tahun, umur yang jauh
di bawah ketentuan masuk universitas. Universitas Berlin menetapkan
batas umur 16 tahun, sehingga Jacobi harus berada kelas yang sama
sampai awal tahun 1821. Lulus dengan prestasi terpuji pada bidang
bahasa Latin, bahasa Yunani dan sejarah namun mempelajari matematika
dipilih sebagai jalan hidup. Masuk universitas dengan pikiran
masih bercabang. Seperti Gauss, Jacobi perlu waktu dua tahun untuk
berpikir sebelum akhirnya memilih matematika. Saat itu, pendidikan
di Jerman masih rendah (baca: Dirichlet), sehingga tidak mungkin
mempelajari matematika tingkat tinggi di universitas. Jacobi hanya
membaca karya-karya Euler dan matematikawan terkemuka lainnya.
Setelah
lulus
Akhir tahun 1824, Jacobi lulus dan berniat mengajar matematika,
Yunani dan Latin di sekolah lanjutan, namun kejeniusan semata
tidak serta merta dapat mengajar karena dia adalah keturunan Yahudi.
Baru tahun 1825, baru ditawari mengajar di Joachimsthalsche Gymnasium,
sekolah lanjutan terkemuka di Berlin. Menerima posisi ini sambil
membuat disertasi doktoral di universitas Berlin. Jacobi menyerahkan
makalah kepada Academy of Science di Berlin pada tahun 1825. Juri
tidak memandang bahwa topik yang ditulis tidak layak untuk diterbitkan
dan makalah itu tidak pernah diterbitkan oleh Academy of Science.
Pada tahun ini pula Jacobi berubah keyakinan dari Yahudi menjadi
umat Kristiani sehingga peluang untuk mengajar di universitas
Berlin terbuka lebar. Atas anjuran teman, dan melihat prospek
di Berlin tidaklah terlalu menjanjikan, Jacobi pindah menjadi
pengajar di Universitas Konigsberg sejak Mei 1826. Di sini Jacobi
bergabung dengan Franz Neumann yang menerima gelar doktor dari
universitas Berlin pada tahun 1825 dan Bessel yang menjadi profesor
astronomi di Konigsberg.
Sebelum sampai di Konigsberg, Jacobi menemukan teori bilangan.
Menulis surat kepada Gauss memberitahu tentang residu-residu kubik
yang diperolehnya, yang terinspirasi oleh karya-karya Gauss tentang
residu-residu kuadratik dan bikuadratik. Gauss terkesan dan mengirim
surat kepada Bessel untuk minta informasi lebih rinci tentang
Jacobi.
Seiring
dan sejalan, Abel dan Jacobi
Umur Abel dua tahun lebih tua dari Jacobi. Tanpa pernah mengetahui
bahwa Abel sudah berupaya memecahkan persamaan pangkat lima (quintik).
Lewat persamaan x5 – 10q²x = p, Jacobi dengan keyakinan
penuh mencari solusi untuk persamaan ini, sebagai langkah awal
untuk mencari solusi untuk persamaan pangkat sepuluh. Penelitian
tentang quintik ini dipicu setelah membaca buku Euler, Introductio
in analysin infinitorum. Muncul idenya untuk menggunakan radikal-radikal
guna menyelesaikan persamaan di atas.
Meskipun upaya ini tidak membuahkan hasil, tetapi dipakai sebagai
langkah awal memasuki dunia matematika. Sama halnya dengan Abel,
Jacobi juga tidak dapat menemukan solusi persamaan ini secara
aljabar. Kekeliruan atau kurang imajinasi, atau apapun istilahnya,
dalam hal ini Jacobi berbeda dengan Abel. Menyatakan menyerah
dan menekuni bidang lain.
Sewaktu Abel menulis surat kepada Holmboe pada tahun 1823, Jacobi
sedang mencoba “membedah” fungsi-fungsi elips. Disebutkannya
bahwa dengan membalik fungsi-fungsi elips, saya membuktikan sesuatu
yang tampaknya tidak mungkin. Makalah kecil, berisi topik tersebut,
juga dikirim kepada Degen untuk dipelajari.
Jacobi,
dalam tempo yang hampir bersamaan, menulis surat kepada pamannya,
Lehmann tentang penelitian yang sedang dikerjakannya. “Gabungan
karya –karya Euler, Lagrange dan Laplace ternyata menyembunyikan
sesuatu yang tampak dari permukaan seperti hal tidak berguna.”
Abel mengawali namun Jacobi tanpa menyadari ada perlombaan, ternyata
mampu mengejar. Karya besar Jacobi merupakan obyek penelitian
Abel tentang fungsi-fungsi elips.
Karya Abel tertimbun di meja kerja Cauchy (baca: Abel), sedangkan
makalah Jacobi, pada Agustus 1827, dikirim langsung ke Legendre
yang sangat menguasai topik elips.
Fungsi
elips
Hampir selama 40 tahun Legendre mempelajari integral eliptik sendirian.
Mampu menelorkan formula-formula, beberapa diantaranya menyerupai
keterhubungan terbalik antara fungsi-fungsi trigonometri, bahkan
integral eliptik di bawah ini.
∫
dx
√ 1- K²x²)(1 - x²)
Dalam
kasus “istimewa” apabila K = 0:
∫
dx =
arcsin x
√( 1-x²)
Lewat
“sentuhan” Gauss, setelah dipicu oleh kiprah dua anak
muda (Abel dan Jacobi) persamaan menjadi:
u =
∫
dx
0→v √(1 -
x²)
u adalah
arcsin *), dimana u diekspresikan sebagai fungsi dari variabel
bebas (independent) v dan x adalah variabel dummy dalam proses
integral.
u
= cosec v
Dengan
memilih u sebagai variabel bebas. Dalam kasus v = f(u) atau dalam
bahasa trigonometri, v = sin u. Fungsi v = sin u lebih dapat dimanipulasi
dengan mengubah u = cosec v, tidak mempunyai periodik.
Dengan membalik (invers) keterhubungan fungsional antara u dan
v, dapat diperoleh fungsi yang lebih bermanfaat dan indah, v =
f(u). Fungsi ini lebih lazim ditulis dengan v = sin u dan dibaca
“v adalah amplitudu sinus dari u,” dikenal sebagai
fungsi elips.
Bangkrut
Tahun 1832, ayah Jacobi meninggal. Selama ini Jacobi dinina-bobokan,
tidak perlu bekerja. Kejayaan ini ternyata hanya berumur 8 tahun,
dan pada tahun 1840, keberuntungan keluarga “melayang”
sudah. Kebangkrutan keluarga Jacobi, diawasi oleh Gauss yang kuatir
bahwa aktivitas [matematika] Jacobi akan terganggu. Gauss melihat
bahwa karya-karya Jacobi melebihi karya-karyanya sendiri pada
umur sebaya. Akhir tahun 1839, Jacobi sempat menemui Gauss secara
pribadi yaitu ketika dalam penjalanan pulang - berobat karena
terlalu banyak bekerja – dari Marienbad menuju Konigsberg.
Ternyata kebangkrutan itu, seperti yang diungkapkan Bassel kepada
Gauss, tidak mempengaruhi karir matematika Jacobi dan dia tetap
bekerja seperti biasa.
Tahun 1842, Jacobi dan Bessel menghadiri pertemuan dengan British
Association di Manchester, dimana dalam kesempatan ini mereka
bertemu dengan Hamilton. Pada saat ini, Jacobi diberi kesempatan
untuk melanjutkan penelitian matematika Hamilton, yang serta merta
disambut dengan senang hati. Sekembalinya dari lawatan itu, Jacobi
jatuh sakit karena kelelahan bekerja. Kemajuan sains di Jerman
sepenuhnya berada di tangan pangeran-pangeran dan raja-raja kecil
dengan wilayah tidak terlalu luas. Mereka ini akhirnya bergabung
untuk membentuk kekaisaran Jerman. Penyandang dana Jacobi adalah
raja Prussia, yang menjunjung tinggi hasil-hasil riset Jacobi
yang diserahkan kepada kerajaan. Ketika Jacobi jatuh sakit, raja
membiayai biaya berobat Jacobi ke Italia. Selama lima bulan, Jacobi
tinggal di Roma dan Naples bersama Borchardt (baca: Weierstrass)
dan Dirichlet (baca: Dirichlet) dan baru kembali ke Berlin pada
bulan Juni 1844. Raja terus membiayai Jacobi – membuat iri
orang lain - sepanjang belum mampu mengajar, sekaligus memberi
tunjangan untuk hidup sehari-hari.
Pengajar
dan Peneliti
Tahun1833, kakak Jacobi, Moritz bergabung dengannya di Konigsberg
sebagai seorang arsitek. Selama dua tahun, ternyata minat Moritz
berubah dengan mendalami fisika sebelum meninggalkan Konigberg
pada tahun 1835 karena ditunjuk sebagai dekan rekayasa sipil di
Dorpat. Tahun 1834, Jacobi menerima makalah Kummer yang saat itu
masih menjadi guru di Gymnasium di Leignitz. Bakat matematika
Kummer terpantau di sini. Kummer membuat terobosan dengan menjabarkan
persamaan-persamaan diferensial pangkat tiga yang membingungkan
Jacobi seperti yang terungkap dalam suratnya kepada Moritz, “Kummer
mampu menyelesaikan problem-problem di luar kemampuannya.”
Tahun
1834, Jacobi membuktikan bahwa apabila fungsi dengan nilai tunggal
dari suatu variabel mempunyai dua periodik karena nasbah periode
itu adalah imajiner. Bidang ini kemudian dilanjutkan oleh Cauchy
dan Liouville. Penelitian tentang persamaan-persamaan diferensial
parsial pangkat satu dan menerapkan untuk persamaan-persamaan
diferensial dinamik adalah kiprah Jacobi. Penelian tentang determinan
dan mempelajari determinan fungsional sekarang dikenal dengan
nama Jacobian. Dalam perjalanan pulang, setelah pertemuan di Manchester,
mereka berdua pulang lewat Paris, dimana Jacobi menjadi dosen
tamu pada Academie des Sciences.
Menjadi
politisi
Tahun 1848, pengangguran dan gagal panen di Jerman memicu pergolakan.
Ada berita bahwa Louis-Philippe diturun-tahtakan di Paris membuat
kaum sosialis dan kaum republikan menentang monarki. Entah karena
diberi nasihat oleh dokter atau mendengar gerutu dokter sewaktu
dirawat di rumah sakit, Jacobi mulai mencoba memasuki dunia politik.
Bujukan teman-teman di universitas yang pernah mendukungnya juga
mempunyai andil terjunnya Jacobi ke dunia politik. Ketika terjadi
pergolahan demokrasi pada tahun 1848, Jacobi ke luar dari kantornya
dan tampil di mimbar. Sekelompok orang mendukung Jacobi untuk
menjadi kandidat pada pemilu tahun 1848. Parlemen tidak pernah
dilibatkan, sehingga pencalonan Jacobi berakhir sia-sia belaka,
bahkan balik menyebut bahwa Jacobi – karena diberi tunjangan
raja – adalah tahanan luar raja. Jacobi tidak terpilih.
Raja gusar karena karena orang yang selama ini diberi tunjangan
selama sakit, diberi posisi di Konigsberg, justru “menggigit”
tuannya. Tunjangan dihentikan dan Jacobi mengalami kesulitan memberi
makan istri dan tujuh anak yang masih kecil-kecil. Pertengahan
tahun 1849, revolusi dapat ditangkal. Seorang teman, menghidupi
anak dan istrinya sedangkan Jacobi tinggal di hotel kumuh guna
meneruskan penelitian. Permohonan agar raja memberi tunjangan:
ditolak. Universitas Vienna yang bersimpati akhirnya mengutus
Littrow, teman Abel, bersama sejawat raja, Alexander van Humboldt,
untuk membicarakan kembali nasib Jacobi. Dengan alasan agar Jacobi
tidak pindah ke negara lain dan berkiprah di sana. Akhirnya, raja
bersedia memberi tunjangan kepada Jacobi kembali namun dengan
syarat: Jacobi tetap tinggal di Berlin dan tidak terlibat dengan
kegiatan politik lagi. Istri dan anaknya tetap tinggal di Gotha.
Bertemu
Matematikawan Perancis
Berangkat ke Italia bersama Borchardt dan Dirichlet, setelah menyempatkan
diri menghadiri pertemuan matematika di Lucca, sebelum bergabung
dengan Schlafli dan Steiner. Schlafli bertindak sebagai penterjemah.
Selama hampir setahun, Jacobi berada di Italia.
Pulang dari Italia, kesehatan Jacobi mulai membaik, sehingga mampu
melakukan penelitian dan membuat makalah lagi. Ketika di Roma,
Jacobi menyempatkan diri melihat manuskrip Diophantus, Arithmetica,
yang disimpan di Vatican. Perubahan cuaca yang drastis, antara
Roma dengan Konigsberg membuat kesehatan Jacobi tidak terlalu
prima. Mengetahui hal ini Raja [Friedrich Wilhelm IV] merekomendasikan
agar pindah ke Berlin. Tunjangan Jacobi ditingkatkan karena biaya
hidup dan biaya pengobatan di Berlin lebih tinggi.
Tahun 1829, Jacobi bertemu dengan Legendre dan matematikawan handal
Perancis lain seperti Fourier dan Poisson ketika berlibur ke Paris.
Sebelum berangkat masih sempat mampir ke Gottingen untuk menemui
Gauss. Karya Jacobi tentang fungsi-fungsi elips menarik hati Legendre.
Makalah Fundamenta nova theoria functionum ellipticarum yang diterbitkan
tahun 1829, bersama dengan lampiran-lampirannya memberi kontribusi
mendasar bagi teori fungsi-fungsi elips. Jacobi tidak sendirian.
Abel membuat kiprah yang sama. Karya bersama bersama Abel tentang
fungsi-fungsi elips mendapat penghargaan dari Akademi Paris pada
tahun 1830.
Beda
pendapat dengan Fourier
Awalnya Fourier memberi komentar bahwa, “Adalah menghamburkan
waktu belaka, Abel dan Jacobi menekuni fungsi-fungsi elips sedangkan
masih banyak problem dalam konduksi-panas yang belum dapat dipecahkan.”
Kritik ini ditanggapi Jacobi dengan menyebut, “Opini Fourier
bahwa matematika adalah milik umum dan memberi penjelasan kepada
fenomana alam, namun filsuf seperti dia juga harus paham bahwa
tujuan akhir dari sains adalah penghargaan bagi pikiran manusia,
dan mempertanyakan bilangan sama halnya dengan mempertanyakan
sistem alam semesta.”
Sebagian pembaca barangkali menduga bahwa Jacobi meninggal karena
banyak kerja atau diabetes yang diidapnya. Jawaban di atas salah,
karena Jacobi meninggal terserang penyakit cacar. Pada liburan
universitas musim panas tahun 1850, Jacobi pergi menengok istri
dan anak-anaknya di Gotha. Awal tahun 1851, Jacobi terkena flu,
kemudian tertular penyakit cacar. Dengan kondisi tubuh yang masih
belum sehat ini, ternyata cacar berakibat fatal. Jacobi meninggal
dunia pada tanggal 18 Februari 1851.
*) Fungsi trigonometri Sin (sinus), Cos (cosin) dan Tg (tangent)
masing-masing mempunyai kebalikan (invers) yang dapat disebut
arcsin, arccos dan arctg namun lebih lazim disebut dengan cosec
(cosecant), sec (secant) dan ctg (cotangent)
Sumbangsih
Menjabarkan fungsi-fungsi elips dapat disebut sumbangsih terbesar
Jacobi pada matematika. Fungsi-fungsi elips yang menjadi kompetensi
Legendre dikupas habis oleh Jacobi. Profesi sebagai pengajar justeru
memegang peran penting. Banyak matematikawan pada jamannya berkonsultasi
maupun berkirim surat dengannya. Fungsi-fungsi trigonometri dikaitkan
dengan integral mulai banyak dipakai setelah Jacobi.
Masa kejayaan matematikawan Perancis berakhir di sini - setelah
Cauchy - dan mulai digantikan oleh matematikawan Jerman, yang
dirintis oleh Gauss. Barangkali mutu pendidikan di sana meningkat
tajam atau kualitas pendidikan di Perancis mulai punah “kesaktiannya.”
Kiprah para matematikawan Jerman yang menimba ilmu di Perancis
barangkali adalah salah satu penyebabnya.