Diophantus
(200 – 250)
Riwayat
Sekitar tahun 250 seorang matematikawan Yunani yang bermukim di
Alexandria melontarkan problem matematika yang tertera di atas
batu nisannya. Tidak ada catatan terperinci tentang kehidupan
Diophantus, namun meninggalkan problem tersohor itu pada Palatine
Anthology, yang ditulis setelah meninggalnya. Pada batu nisan
Diophantus tersamar (dalam persamaan) umur Diophantus.
Seperenam
kehidupan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah masa muda. Setelah
itu, seperduabelasnya, cambang dan berewokku mulai tumbuh. Ditambah
sepertujuh masa hidupku untuk menikah, dan tahun kelima mempunyai
anak. Sialnya, setengah waktu dari kehidupanku untuk mengurus
anak. Empat tahun kegunakan bersedih.
Berapa umur Diophantus? *)
Dugaan
tentang kehidupan Diophantus cukup misterius. Kita hanya dapat
menduga lewat dua fakta yang menarik sebelum menarik kesimpulan.
Pertama, dia mengutip tulisan Hypsicles yang diketahui hidup sekitar
tahun 150 SM. Kedua, tulisan Diophantus dikutip oleh Theon dari
Alexandria. Prakiraan hidup Theon, diacu dari gerhana matahari
yang terjadi pada 16 Juni 364. Dengan dua fakta ini diperkirakan
Diophantus hidup antara tahun 150 SM sampai tahun 364. Para peneliti,
menyimpulkan bahwa diperkirakan Diophantus hidup sekitar tahun
250.
Karya
Diophantus
Diophanus menulis Arithmetica, yang mana isinya merupakan pengembangan
aljabar yang dilakukan dengan membuat beberapa persamaan. Persamaan-persamaan
tersebut disebut persamaan Diophantin, digunakan pada matematika
sampai sekarang.
Diophantus menulis lima belas namun hanya enam buku yang dapat
dibaca, sisanya ikut terbakar pada penghancuran perpustakaan besar
di Alexandria. Sisa karya Diophantus yang selamat sekaligus merupakan
teks bangsa Yunani yang terakhir yang diterjemahkan. Buku terjemahan
pertama kali dalam bahasa Latin diterbitkan pada tahun 1575. Prestasi
Diophantus merupakan akhir kejayaan Yunani kuno.
[Pierre] Fermat mengetahui buku Diophantus lewat terjemahan Clause
Bachet yang diterbitkan tahun 1621. Problem kedelapan pada buku
kedua tentang cara membagi akar bilangan tertentu menjadi jumlah
dua sisi panjang. Rumus Pythagoras sudah dikenal orang Babylonia
2000 tahun silam – memberi inspirasi bagi Fermat untuk menuliskan
TTF /Theorema Terakhir Fermat (Fermat Last Theorem).
Susunan dalam Arithmetica tidak secara sistimatik operasi-operasi
aljabar, fungsi-fungsi aljabar atau solusi terhadap persamaan-persamaan
aljabar. Di dalamnya terdapat 150 problem, semua diberikan lewat
contoh-contoh numerik yang spesifik, meskipun barangkali metode
secara umum juga diberikan. Sebagai contoh, persamaan kuadrat
mempunyai hasil dua akar bilangan positif dan tidak mengenal akar
bilangan negatif. Diophantus menyelesaikan problem-problem menyangkut
beberapa bilangan tidak diketahui dan dengan penuh keahlian menyajikan
banyak bilangan-bilangan yang tidak diketahui.
Contoh: Diketahui bilangan dengan jumlah 20 dan jumlah kuadratnya
208; angka bukan diubah menjadi x dan y, tapi ditulis sebagai
10 + x dan 10 – x (dalam notasi modern). Selanjutnya, (10
+ x)² + (10 - x)² = 208, diperoleh x = 2 dan bilangan
yang tidak diketahui adalah 8 dan 12.
Diophantus
dan Aljabar
Dalam Arithmetica, meski bukan merupakan buku teks aljabar akan
tetapi didalamnya terdapat problem persamaan x² = 1 + 30y²
dan x² = 1 + 26y², yang kemudian diubah menjadi “persamaan
Pell” x² = 1 + py²; sekali lagi didapat jawaban
tunggal, karena Diophantus adalah pemecah problem bukan menciptakan
persamaan dan buku itu berisikan kumpulan problem dan aplikasi
pada aljabar. Problem Diophantus untuk menemukan bilangan x, y,
a dalam persamaan x² + y² = a² atau x³ + y³
= a³, kelak mendasari Fermat mencetuskan TTF (Theorema Terakhir
Fermat). Prestasi ini membuat Diophantus seringkali disebut dengan
ahli aljabar dari Babylonia dan karyanya disebut dengan aljabar
Babylonia.
*)
Misal umur x, sehingga x = 1/6x + 1/12x + 1/7x + 5 + ½x
+ 4 akan diperoleh x = 84, umur Diophantus.
Sumbangsih
Seringkali disebut dengan ”Bapak” aljabar Babylonia.
Karya-karyanya tidak hanya mencakup tipe material tertentu yang
membentuk dasar aljabar modern; bukan pula mirip dengan aljabar
geometri yang dirintis oleh Euclid.
Diophantus mengembangkan konsep-konsep aljabar Babylonia dan merintis
suatu bentuk persamaan sehingga bentuk persamaan seringkali disebut
dengan persamaan Diophantine (Diophantine Equation) menunjuk bahwa
Diophantus cukup memberi sumbangsih bagi perkembangan matematika.