Saya
tidak membatasi hipotesis
(I do not frame hypotheses)
Isaac Newton
Pakar
pembuat benteng Napoleon
Gaspard
Monge
(1746 – 1818)
Masa
kecil
Seorang pedagang dari Haute-Savoie, sebelah tenggara Perancis,
bernama Jacques Monge menikah dengan Jeanne Rousseaux, penduduk
Burgundy dan lahirlah anak lelaki bernama Garpard Monge. Monge
mempunyai dua saudara laki, dimana mereka bertiga memperoleh kesuksesan,
tapi Monge yang paling terkenal. Di desa Beaune di Burgundy ini
pula, Monge tumbuh besar, dimana saat itu harga wine sedang berjaya
– setelah lama terpuruk, dan memberi banyak keuntungan bagi
keluarga Monge. Monge menuntut pendidikan di Oratorian College,
Beaune. Sekolah ini khusus untuk belajar anak-anak orang terhormat
dan dikelola oleh para pendeta. Sekolah ini memberi pendidikan
lebih liberal dibandingkan sekolah religius lainnya. Di sini bukan
hanya diajar tentang ilmu tentang manusia (humaniti) tetapi juga
diberikan pelajaran sejarah, matematika dan ilmu alam. Kehebatan
Monge teruji sejak di sekolah ini dengan selalu menjadi anak terpandai.
Umur 14 tahun, Monge membuat model konstruksi mesin pemadam kebakaran.
Umur 16 tahun, Monge meneruskan sekolah di College de la Trinite
di kota Lyon. Ketika umur 17 tahun, Monge sudah mampu mengajar
fisika. Tahun 1764 (umur 18 tahun), Monge kembali ke Beaune dengan
membawa rencana besar di otaknya, yaitu: mengubah kota dengan
membuat peta kota itu.
Anak
muda dengan banyak minat
Rencana “tata-kota” ala Monge ini kelak akan mempengaruhi
karirnya. Rencana ini dipelajari oleh staf anggota Ecole Royale
du Genie at Mezieres, yang sangat terkesan dengan hasil karya
Monge. Tahun 1765, Monge dipilih oleh Ecole Royale menjadi tukang
gambar, namun tidak “karir” ini tidak sejalan dengan
kehendaknya, karena jabatan ini membuat dia tidak dapat mengembangkan
bakat matematika. Ketidakpuasan ini diketahui sehingga diundanglah
profesor matematika, Charles Bossut untuk membimbing Monge. Awalnya,
Monge tidak suka, karena dia mempunyai keinginan mengembangkan
geometri sesuai dengan ide-idenya.
Agar
merasa lebih betah dalam bekerja, Monge mulai diberi pekerjaan-pekerjaan
yang menuntut penggunaan matematika. Proyek pembangunan benteng
- sebagai contoh - agar musuh terlihat dengan jelas atau musuh
tidak mungkin sembunyi lagi adalah proyek Monge. Dengan menggunakan
metode grafik yang diciptakannya, bukan dengan metode rumit yang
telah ada, Monge mencetuskan teknik geometrikal ciptaannya, yang
baru pada saat itu. Ecole Royale sangat terkesan dengan karyanya
karena dianggap bahwa Monge mempunyai bakat luar biasa baik secara
teoritis maupun praktik.
Tahun 1768, Bossut pindah ke Academie des Sciences di Louvre untuk
menjadi profesor hidrodinamik. Setahun kemudian, Monge mengirimkan
hasil karyanya tentang kurva ganda (double curvature), guna meminta
pendapat Bossut. Makalah ini mendapat pujian dari Bossut, sebelum
diterbitkan sebagai artikel dalam Journal Encyclopedique. Makalah
Monge banyak dipengaruhi oleh penelitian Huygens tentang pendulum
meskipun ditambah dengan banyak penemuan-penemuan baru darinya.
Menekuni
matematika
Sepeninggal Bossut, Monge sukses menggantikan posisinya di Ecole
Royale. Tahun 1770, pekerjaan Monge ditambah dengan penunjukkannya
sebagai pengajar percobaan fisika (experimental physics). Meskipun
posisi ini sudah tinggi, namun belum memuaskan niat Monge untuk
menjadi matematikawan kelas atas. Untuk menggapai cita-citanya
itu, Monge mulai mendekati d’Alembert dan Condercet pada
awal tahun 1771 dengan mengirimkan karya-karyanya. Condercet sangat
terkesan dengan karya-karya yang dikirim oleh Monge, dan memberi
rekomendasi agar Monge memberi presentasi di Academie des Sciences
dalam empat bidang matematika yang ditekuninya. Empat karya matematika
yang dikirim Monge ke Academie adalah variasi-variasi kalkulus,
geometri infinitisimal, teori tentang persamaan-persamaan diferential
parsial, dan teori kombinasi. Tahun-tahun berikutnya, Monge lebih
sering mengirim makalah-makalah berisi persamaan-persamaan diferential
parsial dengan sudut pandang geometri. Ketertarikan mempelajari
ilmu-ilmu lainnya kemudian timbul, sehingga Monge mulai meneliti
problem-problem dalam fisika dan kimia. Tahun 1777, minat Monge
bertambah dalam bidang metalurgi. Sambil tetap mengajar di Ecole
Royale, Monge memprakarsasi pembuatan laboratorium kimia.
Deskriptif
geometri
Monge cepat menangkap pelajaran di Mezieres. Hanya ada 20 siswa,
dimana setiap tahunnya meluluskan 10 orang dengan pangkat letnan
dalam bidang rekayasa. Sisanya, “ditakdirkan”untuk
mengerjakan tugas, praktik kerja – kerja kasar. Monge tidak
pernah mengeluh. Tetap melakukan tugas rutin, survei dan menggambar,
membuat dia banyak bergulat dengan matematika. Tugas paling berat
adalah teori pembangunan benteng, dimana salah satu pokok terpenting
adalah tidak ada bagian yang rawan terhadap serangan api musuh.
Kalkulasi yang membutuhkan aritmatika. Satu hari Monge menyerahkan
solusi kepada penyelia yang dinyatakan benar setelah dicek berulang
kali. Ini adalah awal munculnya deskriptif geometri. Monge ditempatkan
dalam posisi asisten pengajar untuk mengajar metode baru rekayasa
militer. Tentunya jabatan ini membutuhkan sumpah setia, dan selama
15 tahun dijaga sebagai rahasia militer. Baru pada tahun 1794
diungkapkan untuk publik setelah diajarkan di Ecole Normale, Paris
yang dikomandoi oleh Lagrange.
Deskriptif geometri adalah metode menggambar benda padat atau
bentuk-bentuk yang biasa dalam ruang tiga-dimensi ke dalam satu
bidang. Dengan kata lain, menempatkan ke dalam satu lembar kertas
apa yang biasa kita visualisasikan dalam ruang tiga-dimensi. Penelitiannya
tentang persamaan diferential, erat kaitannya dengan geometri,
juga memberi ketenaran nama Monge. Setelah beberapa tahun meninggalkan
Mezeires, Monge mengajarkan penemuannya di Ecole Polytechnique
dan sekali lagi bertemu dengan Lagrange yang menjadi ketuanya.
Monge
menikah
Kehidupan cinta Monge layak dapat perhatian. Dalam suatu resepsi
untuk kalangan elite, Monge mendengar gunjingan orang tentang
seorang janda muda. Monge mulai unjuk gigi, dengan menantang siapapun
yang pertama kali membuat gunjingan itu. Orang yang berdiri paling
dekat dengan Monge – paling sial - langsung kena tinju rahangnya.
Tidak ada pertumpahan darah atau duel. Beberapa bulan kemudian,
kembali dalam suatu perjamuan makan, Monge tertarik dengan keanggunan
seorang wanita muda usia bernama Madame Horbon. Umur 21 tahun,
janda muda, yang menyatakan segan menikah lagi. Cerai karena suaminya
sering berselingkuh. Monge memberi jaminan, “Janganlah kuatir.
Saya sudah menyelesaikan banyak problem yang jauh lebih sulit.”
Monge menikah pada tahun 1777, tanpa disadari oleh sang istri
bahwa nama Monge, pada saat itu, berarti orang terkenal.
Tahun
1780, Monge mulai berkirim surat dengan d’Alembert dan Cordorcet,
yang keduanya secara bersama-sama menjadi pendiri institute -
didukung oleh pemerintah - di Louvre guna mempelajari [ilmu] hidraulik.
Tidak lama Monge diundang ke Paris, sebagai kandidat penyelia
untuk komisi di angkatan laut, jabatan yang dipegang sampai terjadi
revolusi pada tahun 1789.
Terlibat
perang
Selama enam tahun, Monge berkiprah di angkatan laut. Korupsi merebak
dimana-mana, namuni Monge tetap mampu menunjukkan bahwa dirnya
bersih. Sampai setelah revolusi, tahun 1792, Monge tetap menduduki
posisi itu. Baru pada tahun 1793, Monge meletakkan jabatan untuk
mengerjakan pekerjaan yang lebih penting yaitu: mengantisipasi
serangan. Angkatan perang dengan jumlah laskar 900.000 orang tidak
mempunyai bahan utama memproduksi amunisi: tembaga dan timah untuk
membuat meriam; salpeter untuk membuat mesiu dan baja untuk membuat
senapan. Monge bersama Berthollet *) meminta waktu 3 hari untuk
pengadaan semua kebutuhan di atas.
Seluruh negeri dimobilisasi. Monge menyebarkan buletin di semua
desa-desa memberi penjelasan apa yang harus dilakukan. Berthollet
mampu menciptakan metode singkat dan sederhana untuk membuat mesiu,
sehingga seluruh kota di Perancis merupakan pabrik mesiu. Ahli
kimia ini juga mampu memberi penjelasan kepada penduduk bagaimana
cara menemukan tembaga dan timah – membongkar jam dinding
bahkan lonceng gereja. Siang mengawasi produksi dan mengarahkan
karyawan, malam hari mengarang buletin. Buletin dengan judul Seni
Memproduksi Meriam (The art of Manufacuring Cannon) menjadi buku
pegangan, terdapat hampir di semua pabrik di Perancis. Bukan berarti
semua berjalan mulus, dalam suatu kesempatan istri Monge mendengar
“bisikan” suatu komplotan untuk menfitnah Berthollet
dan Monge agar ditangkap dan dihukum. Begitu kabar itu makin santer,
Monge lari meninggalkan Paris.
Ikut
Menjarah Italia
Karir berikut Monge dimulai setelah dia menerima surat dari Napoleon
pada tahun 1796. Sebelumnya, mereka pernah bertemu pada tahun
1792. Lewat surat ini, kemudian, terjalin hubungan akrab antara
Monge dan Napoleon. Surat itu agar Monge dan Berthollet mau mengisi
jabatan komisioner yang dikirim ke Italia untuk memilih lukisan-lukisan,
patung-patung dan karya-karya seni lain yang “disumbangkan”
oleh bangsa Italia sebagai biaya kampanya Napoleon. “Pekerjaan”
ini ternyata mampu membuat Monge menjadi melek seni.
Semua
hasil jarahan itu memenuhi Louvre dan sebagian dikirim ke Paris.
Dipermalukan setelah bangsa Italia membatalkan status republik
mereka dan Monge hanya menjadi diplomat Napoleon untuk Italia
selama delapan bulan. Peristiwa memalukan lain terjadi pada tahun
1798, ketika Monge disuruh Napoleon membuat rencana melakukan
invasi, menaklukan dan “membudayakan” Mesir. Armada
Napoleon sampai di Alexandria pada tanggal 1 Juli 1798, Monge
termasuk salah seorang yang menginjak kakinya di pantai, dan ikut
memberikan perintah menyerbu kota. Dengan perahu menyusuri sungai
Nil, menembaki penduduk yang tidak bersenjata dan membakar. Diikuti
kemenangan pada “pertempuran di Piramida” pada tanggal
20 Juli1798, pasukan berjalan memasuki Kairo.
Masa
Akhir
Pasukan sekutu (dipelopori Inggris) bergerak menyerang pasukan
Perancis, dan Monge melarikan diri. Akhirnya Napoleon menyerah
pada tanggal 6 April 1814, sedangkan Monge tidak ada di Paris,
tapi tidak lama dia kembali untuk memulai hidup baru lagi. Napoleon
melarikan diri dari Elba dan kembali ke Paris pada tanggal 20
Maret 1815. Monge kembali memberi dukungan penuh kepada Napoleon.
Akan tetapi setelah Napoleon kalah dan menyerah di Waterloo, Monge
hanya mampu melihat Napoleon dibawa naik kapal pada 15 Juli 1815.
Dengan dipenuhi rasa takut, Monge melarikan diri ke luar Perancis.
Setelah Paris dirasa aman, pada Maret 1816, Monge kembali.
Dua hari kemudian, dia dipecat dari Institute de France dan setelah
itu kehidupan Monge seperti layang-layang putus talinya. Dilecehkan
secara politis dan merasa kehidupannya terus terancam, sebelum
dua tahun kemudian Monge meninggal karena stroke. Wafatnya Monge
hanya dihadiri oleh sebagian bekas siswanya di Ecole Polytechnique,
yang tidak diperolehkan hadir dalam pemakaman karena larangan
pemerintah. Esok harinya setelah dikubur, para bekas siswa ini
datang ke kuburan. Dan sama sekali tidak ada penghargaan yang
diberikan oleh Pemerintah Perancis.
*) Clause-Louis Berthollet (1748 – 1822) adalah seorang
ahli kimia. Bersama dengan Lavoisier, Berthollet dianggap sebagai
perintis ilmu kimia modern. Juga merupakan teman dekat dari Monge,
Laplace, Lavoisier dan Napoleon.
Sumbangsih
Layak disebut dengan bapak “geometri diferential”
karena dia mengenalkan pertama kali kurva garis pada permukaan
tiga-dimensi. Mengembangkan metode umum untuk aplikasi geometri
untuk menyelesaikan problem-problem kontruksi. Mengenalkan proyeksi
dua bidang untuk menggambar grafis obyek-obyek padat. Teknik ini
digeneralisasikan ke dalam sistem yang disebut dengan geometri
deskriptif (ingat: proyektif geometri Desargues) yang kemudian
lebih dikenal dengan sebutan proyeksi orthografik, metode grafik
yang sekarang banyak digunakan untuk menggambar mekanikal dan
rekayasa.
Dalam bidang kalkulus, nama Monge dikaitkan dengan geometri permukaan
(surface). Aplikasi kalkulus untuk menentukan permukaan yang tidak
lurus menjadi dasar bagi Gauss, dan memberi inspirasi pada Riemann,
yang dikembangkan untuk dasar teori relativitas dari Einstein.