“Saya
tidak mengetahui apapun yang mungkin tampak dalam dunia ini; tapi
bagi saya pribadi, saya seolah-olah hanya seorang anak kecil bermain
di pantai, dan menemukan sebuah batu cantik atau sepotong kulit
kerang indah, sedangkan besarnya lautan kebenaran tetap belum
ditemukan sebelum saya”
(“I do not know what may appear to the world; but to myself
I seem to have been only like a boy playing on the seashore, and
diverting myself in now and then finding a smoother pebble or
a prettier shell than ordinary, whilst the great ocean of truth
lay all undiscovered before me.”)
Isaac
Newton
Bocah
pantai yang duduk di pundak para raksasa
Isaac
Newton
(1642 - 1727)
Masa
kecil
Newton lahir prematur pada penghujung tahun 1642 * bersamaan dengan
tahun meninggalnya Galileo. Badan bayi ini sangat kecil (prematue)
sehingga harus masuk tabung. Ayah Newton, seorang petani, bahkan
sudah meninggal 3 bulan sebelum dia dilahirkan. Ibunya menginginkan
agar Newton menjadi petani, tapi jalan hidupnya berubah setelah
melanjutkan sekolah di Grantham dan kost di rumah seorang apoteker.
Di sini Newton mempunyai kesempatan membaca buku dan melakukan
eksperimen. Penemuan kincir air, kincir angin, jam pasir dan jam
air terjadi pada periode ini, sebelum dipanggil pulang untuk mengurus
tanah pertanian dan berhenti sekolah. Namun tahun 1658, Newton
kembali ke rumah apoteker dan kembali sekolah.
Juni 1661, Newton masuk Universitas Cambridge Trinity dengan program
subsidi – mengganti biaya sekolah dengan membersihkan ruangan
dan melayani kebutuhan dosen. Awalnya dia mempelajari “Ilmu
cahaya (optics)” Kepler, membaca “Teori dasar ilmu
ukur” Euclid serta “Cara dan petunjuk ilmu ukur”
Tycho Brahe. Di bawah bimbingan Isaac Barrow, Newton mulai mempelajari
matematika dan ilmu optik. Awal tahun 1665, Newton lulus dari
Cambridge tapi tidak lama kemudian muncul wabah (bubonic plague)
sehingga universitas ditutup dan dia pulang ke desanya (Woolsthorpe).
Ternyata banyak orang pintar yang menjadi pendukung sekaligus
pesaing Newton, meninggal, karena epidemi ini.
Sejaman
dengan para jenius bidang lain
Suatu hari di tahun 1664, pada sebuah kedai kopi di London terjadi
diskusi tiga ilmuwan terkemuka jaman itu, yaitu: Robert Hooke
(1635 – 1703), penemu hukum Hooke **; Christopher Wren (1632
– 1723), ilmuwan sekaligus arsitek yang membangun St. Paulus
di London dan dosen astronomi serta Edmund Halley (1656 –
1742) *** pada tahun 1682.
Trio ini sedang mendiskusikan dan mencoba merumuskan orbit planet,
namun selalu gagal. Halley datang ke Cambridge dan meminta nasihat
Newton. Ternyata rumus “simpanan” Newton – yang
kemudian dipublikasikan atas saran Halley, dapat memecahkan problem
tersebut meski kemudian ada tuduhan dari Hooke bahwa karya Newton
adalah karya plagiat. Hal ini membuat Newton patah arang, tapi
demi mengungkapkan kebenaran – teringat akan meninggalnya
Copernicus dan Galileo untuk kebenaran, maka Newton terus melakukan
penelitian dan merumuskan hukumnya sampai hukum ketiga.
Tahun 1687 terbitlah karya Newton yang monemental, Principia.
Konflik dengan Hooke ini terus berlanjut ketika Newton juga menemukan
teori tentang cahaya dan warna – terlebih dahulu diawali
oleh penemuan mikroskop pada tahun 1678 oleh Antony Van Leewenhoek
(1632 – 1723) yang berkewarganegaan Belanda. Pada saat yang
sama, Christiaan Huygens (1629 – 1695) seorang ahli fisika,
namun juga menekuni horology (ilmu tentang pengukuran waktu) dan
pencetus teori tentang cahaya sekaligus seorang matematikawan.
Peran Huygens sangat penting dalam mengubah jalur minat Liebniz
dari hukum dan filsafat untuk kemudian menekuni matematika (baca:
Leibniz). Pierre de Fermat – hidup semasa itu pula, sedang
mencoba merumuskan matematika yang terhubung dengan tingkat perubahan,
untuk selanjutnya matematika ini dikenal dengan “julukan”
kalkulus. Perlombaan kalkulus ini, seperti sudah kita ketahui
bersama, dimenangkan oleh Newton dan Leibniz.
Tahun 1666, Newton sudah menemukan kalkulus namun baru sepuluh
tahun kemudian, diusulkan oleh Royal Society untuk membuat laporan
- guna diperiksa - kepada Johann Bernoulli (1646 – 1716).
Pada saat yang bersamaan, ahli matematika Jerman, Leibniz juga
meneliti kalkulus setelah membaca laporan Newton pada waktu ada
kesempatan mengunjungi Bernoulli. Keduanya saling menuduh siapa
yang pertama kali menemukan kalkulus. Akhirnya keduanya dikukuhkan
bahwa kalkulus adalah penemuan mereka berdua. Dalam perkembangannya,
kelak, kalkulus versi Leibniz lebih banyak digunakan karena lebih
sederhana, namun kalkulus tidak akan kita kenal, apabila tidak
ada Newton.
Fluxion
Newton
Dalam kurun beberapa tahun Newton mengembangkan metode sistematis
untuk menyelesaikan problem tangen. Akhirnya, Newton bisa menggambar
tangen sebagai garis lengkung mulus yang dapat digambar pada sembarang
titik. Proses ini adalah awal penemuan kalkulus, yang di kemudian
hari cara di atas disebut sebagai diferensial. Kalkulus atau dapat
disebut aljabar ketidakhinggaan, matematika kesinambungan –
satu dari alat-alat matematika yang sangat berguna. Sejak dahulu
suatu kesinambungan atau gerakan (motion) mendapat “tempat”
di hati matematikawan karena “gelitik” paradoks Zeno.
Diferensial ala Newton didasarkan pada fluxions – aliran
– suatu ekspresi matematikal yang disebutnya fluents. Ilustasi
dengan menggunakan persamaan di bawah ini dapat membantu pemahaman
tentang fluxion.
y =
x² + x + 1 (1)
Persamaan
di atas mempunyai dua fluents: y dan x, dimana y dan x dapat berubah,
atau mengalir, seiring dengan berjalannya waktu. Tingkat perubahan
– fluxion – diberi notasi yº dan xº. Dalam
notasi Newton, y berubah menjadi (y+oyº), dimana x berubah
menjadi (x+oxº). Angka o mewakili jumlah waktu yang telah
dihabiskan, hampir mendekati angka nol. Persamaan di atas berubah
menjadi:
(y
+ oyº) = (x + oxº)² + (x + oxº) + 1 (2)
Dengan
menguraikan (x+ oxº)² diperoleh:
y+oyº = (x²+x+1) + 2x(oxº) + 1(oxº) + (oxº)² (3)
Kurangkan
persamaan (3) dengan persamaan (1) yang sehingga yang tersisa
adalah:
oyº = 2x(oxº) + 1(oxº) + (oxº)² (4)
Newton
mengetahui bahwa (oxº)² sangatlah kecil sehingga
dapat diabaikan:
oyº/oxº = 2x + 1
Cara
di atas memberikan hasil memuaskan, tetapi tindakan Newton dengan
mengabaikan oxº mengakibatkan (oxº)² dan (oxº)³
dan pangkat lebih tinggi menjadi sama dengan nol, akibatnya oxº
itu sendiri harus sama dengan nol. Pembagian dengan penyebut nol
adalah “tabu” dalam logika matematika, dimana “kasus”
ini tidak terjadi pada kalkulus yang dikembangkan oleh Leibniz.
Newton sudah menemukan kalkulus pada tahun 1666, tetapi baru pada
tahun 1676 diusulkan untuk membuat laporan pada matematikawan
Johann Bernoulli. Sementara itu, Leibniz pada waktu kunjungan
kerja ke kantor Bernoulli di London, pernah membaca laporan Newton.
Hukum
Newton
Ide terbesar Newton justru terjadi pada tahun 1666. Pada siang
hari dia membaca dan merenungkan teori Copernicus, Galileo dan
Kepler tentang orbit bumi di bawah pohon apel. Sebuah apel jatuh
menimpanya dan dia langsung mengambil kesimpulan bahwa bulan juga
mempunyai daya tarik karena [bulan] tidak jatuh ke bumi sama seperti
apel. Tujuh tahun kemudian, dia baru mendapatkan jawabannya. Mulai
bosan berkutat dengan alam semesta, Newton mulai melakukan eksperimen
tentang cahaya.
Newton mengawali penjelajahan sains dengan dasar pemikiran Galileo,
analitikal geometri dari Descartes dan hukum Kepler tentang gerakan
planet yang ada di otak. Ketiga orang inilah yang disebut Newton
dengan raksasa-raksasa yang menggendongnya. Newton memformulasikan
tiga hukum yang mengatur semua gerakan (fenomena) dalam alam semesta
dari galaksi di jagad raya sampai elektron berputar mengelilingi
nukleus. Hukum gerak Newton mampu bertahan tiga abad. Konsep-konsep
ruang, waktu dan massa ini akan kehilangan “kesaktiannya”
dihantam oleh teori relativitas Einstein; Konsep (gaya) aksi dan
reaksi serta momentum dilumat mekanika quantum: namun hukum Newton
tetap tak terbantahkan. Tidaklah lengkap apabila tidak menampilkan
hukum Newton yang menjadi legenda sampai sekarang.
Hukum Newton I (merumuskan ide Galileo) tentang hukum benda
konstan, yaitu: benda diam cenderung terus diam. Benda bergerak
cenderung terus bergerak lurus dengan laju konstan.
Hukum Newton II tentang hubungan antara gaya, massa dan percepatan,
yaitu: semakin besar gaya yang bekerja pada sebuah benda semakin
besar percepatannya, tetapi semakin pejal benda semakin besar
perlambatannya.
Hukum Newton III tentang aksi dan reaksi, yaitu: ketika suatu
benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua juga melepaskan
gaya yang sama namun berlawanan arah dengan gaya benda pertama.
Minat-minat
Newton lainnya
Pada usia 23 tahun, Newton juga melakukan eksperimen “cahaya”
dengan menggunakan sebuah prisma. Lewat eksperimen ditemukan bahwa
cahaya putih bisa diurai menjadi spektrum tujuh warna, lalu bisa
menyatu kembali menjadi seberkas cahaya putih.
Newton juga menggembangkan teleskop buatan Galileo, sehingga mampu
melakukan pembesaran 40 kali yang disebut dengan teleskop refleksi.
Newton terus mencoba melakukan perbaikan kemampuan teleskop ini,
sampai pada akhirnya tahun 1671 jadilah teleskop refleksi yang
berkualitas paling baik di jaman itu (sampai sekarang teleskop
ini masih tersimpan pada perpustakaan kerajaan di London).
Hooke kembali bersitegang dengan Newton dalam cahaya dan warna.
Makalah yang diterbitkan Newton dituduh mencontek buku “Gambar
uji coba mikroskop” karangan Hooke. Hal yang sama terjadi
setelah Newton menerbitkan Principia, Hooke kembali menyerang
Newton, agar menghentikan penerbitan dan peredaran buku tersebut,
sebelum keduanya didamaikan oleh Halley.
Tahun 1704, setelah buku Optik yang isinya meliputi warna cahaya,
pemantulan dan spektrum cahaya dicetak untuk kedua kalinya, Newton
juga melakukan penelitian antara lain: akustik (ilmu tentang suara),
prinsip pengawetan, theorema binomial, alkimia (cakal bakal ilmu
kimia), di mana yang terakhir ini dilakukannya dengan sering berdiskusi
dan melakukan percobaan dengan Boyle. Kesimpulan dari percobaan
Newton dan Boyle menjawab bahwa alkimia bukan semacam ilmu sihir
dan merintis cabang ilmu pengetahuan lain, yaitu: kimia. Adanya
materi dan alam yang memberi unsur padat, cair dan gas. Bentuk
padat menjadi bentuk cair dan kembali dari cair menjadi padat
adalah “kerja” alam, sebelum dibuat kesimpulan bahwa
materi yang ada di alam semesta terdiri dari materi yang paling
kecil.
Karakter
Newton (tambahan)
Umur 47 tahun, Newton dipilih untuk mewakili Universitas Cambridge
dalam parlemen, namun pada saat hampir bersamaan ibunya meninggal.
Tidak lama kemudian dia mulai menulis buku agama, sebelum dia
sendiri mengalami ketegangan syaraf. Asal muasal pukulan berat
ini adalah tempat tinggalnya terbakar dan api rupanya telah memusnahkan
semua catatan eksperimennya selama lebih dari 20 tahun. Jiwanya
tergoncang, disusul jiwanya melemah, ingatannya menurun tajam
dan cepat naik darah.
Selama dua tahun tidak ada kiprah apapun, Newton kembali melakukan
pengamatan terhadap lintasan bulan dan melakukan eksperimen-eksperimen
lagi. Pada saat itu, Inggris – masa pemerintahan Charles
II, mempunyai gedung astronomi di Greenwich yang dibangun oleh
Flamsteed, seorang astronom sekaligus ahli matematika.
Newton meminta bantuan Flamsteed agar mengirimkan hasil pengamatannya
terhadap benda-benda langit kepadanya. Makin lama makin banyak
bahan yang diminta Newton, dimana hal ini membuat kondisi kesehatan
Flemsteed memburuk dan tidak dapat melayani permintaan Newton
lagi. Persahabatan mereka retak dan akhirnya putus pada tahun
1698. Keduanya memendam dendam dan Newton tidak lagi melakukan
penelitian tentang lintasan bulan. Pada tahun 1713, saat Principia
dicetak ulang untuk ketiga kalinya, Newton bahkan sama sekali
tidak menyebutkan jasa Flamsteed. Flamsteed meninggal pada tahun
1719 dengan menyimpan dendam kesumat.
Apabila di atas sudah diketahui bahwa Newton berseteru dengan
Hooke. Agar tidak terjadi perselisihan dengan Hooke, Newton baru
menerbitkan buku Optik pada tahun 1704, setahun setelah Hooke
meninggal. Saling tuding siapa yang menjadi plagiat dalam penemuan
kalkulus dengan Leibniz dan bermusuhan dengan Flemsteed, maka
lengkaplah gambaran tentang karakter Newton.
Newton
mendapatkan gelar Sir
Tahun 1705, Newton diangkat menjadi ketua umum Royal Society dan
tahun 1705 dianugerahi gelar Sir. Awalnya, Newton menjabat sebagai
inspektur percetakan uang kerajaan dan sukses melakukan penggantian
mata uang selama kurun waktu 3 tahun sebelum diangkat menjadi
Direktur percetakan uang kerajaan. Umur 80 tahun, Newton sering
dililit penyakit tetapi penglihatannya masih baik. Untuk membantu
mengakomodasi kegiatannya, dipekerjakanlah seorang asisten. Meskipun
penyakitnya kambuh dan sering mengeluhkan sakit, tetapi Newton
tidak pernah mengerutu, marah atau menjadi tidak sabaran. Semua
itu dimaklumi hanya dengan tertawa dan mengobrol seperti biasa
dan tetap berkutat dengan kegiatan membaca dan menulis. Newton
tidak menikah tapi ketiga saudara tirinya tetap mendapat perhatian
darinya. Pada usia 84 tahun, Newton meninggal dan jenasahnya dikebumikan
di Westminster Abbey, tempat peristirahatan terakhir bagi keluarga
raja, orang terkenal, pahlawan dan ilmuwan. Setelah Newton meninggal,
untuk mengenang jasa-jasanya dibuatlah mata uang bergambar Newton.
*) Ada yang menyebut tanggal lahir Newton 4 Januari 1643. Perbedaan
ini terjadi karena ada ‘koreksi’ kalender Gregorian
pada tahun 1582, sehingga ada selisih 11 hari. Inggris baru mengadopsi
kalender Gregorian terhitung tahun 1752.
**) Hooke, anggota Royal Society, adalah orang yang menaruh minat
kuat apabila ada penemuan sains dan teori baru. Awalnya dia adalah
seorang pelukis, namun setelah menguasai 6 buku Euclid dalam waktu
satu minggu, kemudian banting setir menekuni sains.
***) Penemu komet, sehingga komet itu diberi nama seperti nama
penemunya.
Sumbangsih
Gravitasi tidak akan diperhatikan orang tanpa peran Newton. Ilmu
kimia yang semula dianggap seperti ilmu “sihir” di
tangan Newton menjadi disiplin ilmu kimia setelah melewati tahapan
alkimia. Kaitan antara gaya, massa dan percepatan dalam diubah
Newton menjadi persamaan matematik. Tonggak-tonggak sains dibentuk
oleh Newton sebelum dikembangkan oleh pakar-pakar lainnya sampai
dirombak oleh Einstein lewat teori relativitas yang fenomental.
Ketiga hukumnya terutama hukum tentang gaya (aksi dan reaksi)
dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena alam. Ide kalkulus
berawal dari Newton, meskipun karena kurang sabar dan karyanya
lebih banyak disimpan, maka Leibniz muncul dengan ide lebih brilian
dan notasi yang familiar