Keindahan
adalah ujian pertama; tidak ada tempat permanen di dunia ini bagi
matematika yang keliru
(Beauty is the first test; there is no permanent place in the
world for ugly mathematics.)
Godfrey Harold Hardy
Anak
bandel yang tunduk di bawah pesona matematika
Jean-Baptiste
Joseph Fourier
(1768 – 1830)
Masa
kecil
Fourier lahir pada tanggal 21 Maret 1768 di Auxerre, Perancis.
Anak seorang penjahit, dari istri kedua yang memberinya selusin
orang anak, dimana Joseph adalah anak ke sembilan. Ibunya meninggal
saat dia berusia 9 tahun disusul oleh ayah setahun berikutnya.
Anak yatim piatu ini kemudian diasuh oleh Uskup di Auxerre dengan
biaya ditanggung oleh seorang wanita bangsawan yang tertarik dengan
kesopanan dan perilaku sopan anak tersebut – tanpa sedikitpun
bermimpi anak ini kelak menjadi apa. Uskup itu mengirim Fourier
ke Ecole Royale Militaire di Auxerre, dimana baru diketahui bahwa
anak itu adalah anak genius. Umur 12 tahun menulis kotbah yang
akan dibawakan oleh pastor untuk gereja di Paris dan kota besar
lainnya. Herannya, umur 13 tahun, Fourier mendadak berubah menjadi
seorang anak sulit diatur, melawan, bandel sekaligus pemberang.
Hal ini tidak berlangsung lama setelah secara tidak sengaja berkenalan
dengan matematika pada umur 14 tahun. Saat itu dia belajar 6 buku
Bezout, Cours de mathematique. Matematika – seperti sihir
- ternyata mampu menaklukkan perilaku tidak terpuji Fourier. Tahun
1783, Fourier mendapat hadiah pertama dalam mempelajari karya
Bossut, Mechanique en general.
Belajar matematika ternyata butuh perjuangan tersediri. Malam
hari saat tidak ada penerangan namun pada siang harinya, Fourier
mengumpulkan sisa-sisa pembakaran lilin dari dapur atau dari kolege,
guna dilebur menjadi lilin penerangan untuk belajar matematika
di malam hari. Fourier belajar matematika secara diam-diam, di
belakang perapian atau di balik layar gereja, dengan cita-cita
agar pada umur 21 tahun mampu menyamai prestasi Newton dan Pascal.
Menjadi
pendeta
Kolege menuruh Fourier menjadi seorang pendeta, dimana sebelumnya
diharuskan mengikuti masa percobaan di Saint Benoit. Minat matematika
tetap ada dan dia selalu berkirim surat dengan C.L. Bonard, profesor
matematika di Auxerre. Fourier merasa tidak yakin bahwa dia membuat
keputusan yang benar untuk menjadi pendeta.
Mengirim makalah tentang aljabar kepada
Motucla di Paris sebelum akhirnya menulis surat kepada Bonard
bahwa dia akan membuat penemuan dalam bidang matematika. Nasib
menjadi pendeta rupanya belum datang padanya. Sebelum Fourier
diambil sumpahnya, terjadilah revolusi Perancis 1789. Minat sebenarnya
adalah menjadi prajurit tapi paksaan dari komisioner membuat anak
penjahit ini sulit memenuhi cita-citanya. Revolusi membuat segalanya
berubah dan bebas. Teman-teman lamanya di Auxerre memiliki pandangan
luas dan mengetahui bahwa Fourier tidak cocok menjadi biarawan.
Mereka mengangkat Fourier menjadi profesor matematika. Mengajar
hanya apabila pengajar lain sakit atau berhalangan, namun Fourier
ternyata lebih mampu daripada yang digantikan. Mengajar fisika
hingga sejarah. Umur 21 tahun pergi ke Paris untuk mengantar hasil
penelitiannya tentang solusi persamaan-persamaan numerikal ke
Academie yang diketuai oleh Lagrange. Karya ini menarik perhatian
Lagrange sehingga saat pulang ke Auxerre, Fourier dipenuhi dengan
kegembiraan. Lewat keahliannya mengarang khotbah, dia bergabung
dengan sebuah partai politik, dan mampu menjadi orator ulung.
Pengajar
dadakan
Sejak awal Fourier memang menyukai politik (baca: revolusi) sampai
akhirnya datang. Selama terjadi kekacauan, dia melupakan bahaya
dengan menyatakan bahwa tidak perlu bertindak di luar batas (brutal).
Ilmuwan yang terjun langsung saat revolusi. Bergabung dengan massa
dan melakukan pembaharuan dalam bidang sains dan budaya yang diidamkan
oleh para intelektual. Fourier memandang bahwa saat revelosi,
ilmuwan terlibat atau justru sebaliknya, melarikan diri ke negara
lain, sedangkan sains itu sendiri harus berjuang dengan nasibnya
sendiri melawan gelombang dasyat barbarisme. Napoleon mampu melihat
problem ini, sehingga dicanangkan pembangunan sekolah-sekolah.
Tidak ada guru, sehingga dibuat program pengadaan guru. Timbul
kebutuhan untuk melatih ribuan guru. Untuk tujuan inilah Ecole
Normale didirikan pada tahun 1794 dan sebagai penghargaan dalam
rekruitmen di Auxerre, Fourier diangkat menjadi ketua bidang matematika.
Mulailah era baru pengajaran matematika di Perancis. Dibuat konvensi
bahwa para pengajar matematika juga harus mengajar dengan bahan-bahan
yang tersedia. Kuliah diberikan dengan berdiri, dan terjadi interaksi
antara siswa dengan pengajar. Kuliah cara ini sukses besar –
di luar dugaan para penggagasnya, dicatat sebagai salah satu periode
keberhasilan dalam sejarah sains dan matematika Perancis. Sukses
diraih meskipun usia Normale masih sangat singkat, mempertahankan
keberadaan Polytechnique, dan memberi gairah baru dalam kuliah
matematika lewat kilas-balik sejarah, memberikan abstraksi-abstraksi
dengan penerapan-penerapan yang disajikan secara menarik adalah
bukti bahwa Fourier cocok untuk mengajar.
Menyerbu
Mesir
Fourier masih bekerja sebagai insinyur dan menjadi matematikawan
di Polytechnique ketika Napoleon pada tahun 1798 memutuskan untuk
mengajak Fourier sebagai salah seorang anggora legiun budaya dalam
upaya Napoleon untuk “meningkatkan” peradaban Mesir.
Penyerbuan Mesir dilakukan dengan dalih agar Mesir juga menikmati
“peradaban Eropa.” Monge, Berthollet dan Fourier adalah
tiga “patriot” dari peradaban Eropa, dengan melupakan
ambisi pribadi, mengerjakan tugas misionaris ini. Armada Perancis
yang terdiri dari 500 kapal mendarat di Malta pada 9 Juni 1798,
dan diperlukan waktu 3 hari untuk menaklukkan kota. Monge mendirikan
15 sekolah dasar dengan kurikulum mirip Polytechnique. Seminggu
kemudian, Napoleon dengan armada lain (l’Orient) mendarat.
Ekspedisi dilanjutkan dan mendarat di Alexandria pada 1 juli 1798.
Legiun budaya diperintahkan Napoleon menyusur sungai Nil dengan
boat menuju Kairo.
Napoleon menembakkan meriam dan membakar rumah-rumah di pinggir
sungai Nil. Tidak ada perlawanan berarti karena rakyat Mesir tidak
mempunyai persenjataan yang memadai. Kemenangan dengan mudah diraih
dan setelah terjadi “pertempuran Piramid”, Kairo dapat
direbut. Kembali, tiga “patriot” mendirikan Institut
Mesir (parodi Institut de France) pada tanggal 27 Agustus 1798,
yang akhirnya terbengkelai “mati” seperti mumi. Bukan
berarti penduduk Mesir yang tidak “beradab” berdiam
diri, dalam suatu pertempuran di kota 300 prajurit Napoleon yang
terkenal gagah berani dipenggal kepalanya. Banyaknya prajurit
Napoleon mati saat melintasi gurun dan ancaman serangan armada
Inggris, membuat misi “budaya” ini dikaji ulang. Napoleon
sendiri kembali ke Perancis pada tahun 1799, sedang Fourier kembali
ke Paris pada tahun 1801.
Menjadi
petinggi di Grenoble
Pulang dari Mesir, Fourier diangkat sebagai prefect (=setingkat
bupati) yang mempunyai kantor pusat di Grenoble. Wilayah itu sedang
mengalami pergolakan politik; tugas perdana Fourier adalah membuat
peraturan daerah sehingga menghadapi banyak tentangan dari para
oposisi. Saat di Mesir, Fourier mengepalai riset arkheologi, penduduk
Grenoble “tergganggu” dalam implikasi religius dengan
adanya institut, teristimewa tentang umur prasasti-prasasti kuno,
yang bertentangan - dalam bayangan mereka - dengan kronologis
pada alkitab. Setelah Fourier mengambil-alih semua tanggung jawab
dan prasasti-prasasti tersebut diangkut di dekat rumahnya, semua
gunjingan mulai hilang. Tanggung jawab Fourier ditunjukkan dengan
mengemban tugas-tugas mulia. Dua prestasi besar dalam posisi administrasi
adalah: pertama, mengeringkan rawa-rawa di daerah Bourgoin sehingga
tidak lagi berjangkit penyakit malaria dan kedua, membangun jalan
besar dari Grenoble ke Turin sehingga dapat mengejar ketinggalan
dibanding kota-kota lain.
Tidak lupa Fourier juga menulis Gambaran tentang Mesir (Description
of Egypt) yang belum selesai pada tahun 1810, karena Napoleon
melakukan banyak perubahan, sebelum diterbitkan. Pada saat buku
ini terbit edisi keduanya, semua rujukan tentang Napoleon sudah
dihapus.
Pada saat bersamaan, Fourier mengerjakan karya matematika untuk
teori tentang panas. Dimulai pada tahun 1804 dan baru selesai
tahun 1807, On the Propagation of Heat in Solid Bodies. Makalah
ini dibacakan di Instritut Paris pada tanggal 21 Desember 1806
dengan komite terdiri dari Langrange, Laplace, Monge dan Lacroix.
Saat itu makalah tersebut mengundang kontroversi. Dua alasan dapat
disebut, mengapa komite tidak suka dengan makalah ini?. Penolakan
pertama datang dari Lagrange dan Laplace pada tahun 1808, karena
“penjelajahan” fungsi-fungsi sebagai deret trigonometri
yang lazim disebut dengan deret Fourier. Penolakan kedua, dibuat
oleh Biot yang mencela turunan dari persamaan-persamaan perubahan
panas. Disusul sanggahan dari Laplace dan Poisson. Akan tetapi
tidak mengoyahkan Fourier, dan makalah itu mendapat penghargaan
matematika pada tahun 1811.
Deret
Fourier
Fourier mengarang buku Theorie analytique de la chaleur (teori
matematika tentang panas), karya puncak tentang fisika matematikal.
Fourier
menyinggung tentang Sin dan Cos dalam bukunya Periodicity, dimana
didalamnya juga termaktub deret Fourier yang terkenal itu. Buatlah
lingkaran dengan jara-jari = 1. Gambar lingkaran tersebut dengan
pusat di titik 0 pada geometri Kartesian. Juga, gambar lengkungan
AB yang panjangnya 2p (keliling lingkaran = 2p, karena jari-jari
= 1).
Titik P – dengan dengan besar OQ – mengawali putarannya
dari titik A memutar sepanjang lingkaran berlawanan dengan jarum
jam, bergerak sehingga Sin segi-tiga POB atau juring POA. Pada
posisi manapun, titik P, sudut POA adalah bagian dari empat-kuadran
atau lingkaran (360°) sehingga titik P melintas penuh semua
titik (kedudukan) lingkaran. Jadi dapat diketahui bahwa sudut
POA yang makin besar digambar dari lengkungan AB dengan besar
2p yang sama panjangnya dengan lengkungan AP. Saat titik P mencapai
titik C, ¼ dari keseluruhan lingkaran sama dengan sudut
COA dapat digambar pada titik R, besar ¼ lengkungan AB
dari titik A. Apabila diterukan akan tercipta lengkungan (kurva
sinusoid) berikutnya. Tidak tertutup kemungkinan, kurva dimulai
dengan mengikuti arah jarum jam, sehingga kurva dimulai dari bawah
garis horisontal.
Jika x adalah besar sudut, maka persamaan:
Sin (x + 2p) = Sin x
Mengekspresikan kenyataan bahwa sin x adalah
fungsi dari x yang mempunyai periode 2p, begitu pula:
Cos (x + 2p) = Cos x
Mengamati kurva Sin 2x akan melintasi periode
“dua kali lebih cepat” dibanding Sin x, dan kurva
adalah setengah periode Sin x. Begitu pula untuk Sin 3x yang membutuhkan
hanya 2p/3. Hal yang sama juga berlaku untuk Cos x, Cos 2x, Cos
3x, …
Deret Fourier yang penuh kontrobversi pada saat itu adalah:
y = a0 + a1 cos x + a2 cos 2x + a3 cos
3x + … + b1 sin x + b2 sin 2x + b3sin 3x + …
Notasi tiga titik menunjuk bahwa persamaan
itu sampai tidak terhingga; dan koefisien a0, a1, a2, …,
b1, b2, b3 … dapat ditentukan apabila nilai y ditentukan
dan x diketahui.
Konsep periodik (sederhana) seperti yang dijabarkan di atas sangat
penting dalam mengamati fenomena alam; gelombang, orbit bulan,
musim dan berbagai fenomena lain dengan periode sebagai ciri-cirinya.
Menentang
kembalinya Napoleon
Saat Napoleon kalah dan lari dari Elba, jalan yang ditempuh Napoleon
melewati Grenoble. Ketika Monge mendengar bahwa Napoleon dengan
pasukannya akan melewati Grenoble, Fourier sangat kuatir. Fourier
membujuk rakyatnya untuk menentang Napoleon dan menjadi pembela
raja. Mengetahui kenyataan ini, Napoleon marah besar. Fourier
akhirnya menjadi penengah agar tidak terjadi perang saudara. Napoleon
akhirnya mengangkat Fourier menjadi prefect di Rhone. Meskipun
Fourier menolak perintah, barangkali dari [Lazare] Carnot, yang
menyatakan agar semua simpatisan raja diganti, namun Fourier tetap
dapat menarik simpati Napoleon yang akan memberinya uang pensiun
6000 frank, terhitung 1 Juli 1815. Pada tanggal itu ternyata Napoleon
kembali kalah (perang) dan uang pensiun tidak pernah diterima
dan Fourier kembali ke Paris.
Fourier masuk Academie des Sciences pada tahun 1817. Tahun 1822,
Delembre, Sekretaris bagian matematika Academie, meninggal dan
Fourier bersaing dengan Biot dan Arago guna menggantikan. Arago
mengundurkan diri dan Fourier – lebih populer daripada Biot
– terpilih menjadi sekretaris. Dalam kapasitas jabatan itu,
Academie menerbitkan karyanya yang memenangkan kontes, Theorie
analytique de la chaleur pada tahun 1822. Bukan karena manuver
politik, karena sebenarnya sudah akan diterbitkan oleh Delembre
sebelum meninggal.
Masa
tua
Semasa tua tinggal di Paris, Fourier banyak melakukan riset matematika
dan menerbitkan banyak makalah, beberapa adalah matematika murni
dan sebagian lagi tentang aplikasi matematika. Bukan berarti hidupnya
tanpa problem. Kontroversi tentang teori panas masih dicerca oleh
Biot dan Poisson. Dinyatakan bahwa teknik matematika Fourier tidak
sahih dan tidak mempunyai teori alternatif. Bantahan dari Fourier
dinyatakan lewat Historical Precis, meski sudah dikirim kepada
para matematikawan, tapi tidak pernah diterbitkan.
Masa-masa tua menjadi sekretaris Acedemie membuat dia membutuhkan
pendengar yang baik (layaknya orang tua). Selalu bercerita tentang
petualangan di Mesir dan prestasi sains yang menjadi kebanggaannya,
tercampur antara fakta dan fiksi. Fourier meninggal karena sakit
liver (ada diagnosa penyumbatan arteri) pada usia 63 tahun.
Sumbangsih
Nama Fourier selalu identik dengan deret Fourier-nya yang sangat
terkenal. Kurva sinusoid yang digambar dengan menggunakan geometri
Kartesian banyak bermanfaat bagi pengembangan goniometri pada
umumnya dan matematika pada khususnya. Teori tentang panas merupakan
kepeloporan Fourier dalam bidang ini sebelum dilanjutkan oleh
Lord Kelvin.
Matematika murni dan terapan – terutama untuk fisika, dikembangkan
oleh Fourier. Penggunaan persamaan diferensial parsial dalam riset
untuk teori tentang panas adalah sebuah langkah besar dalam aplikasi
matematika.