Aneh
kedengarannya, kekuatan matematika terletak pada pengingkaran
semua pikiran tidak lazim dan operasi-operasi mental yang tersimpan
secara indah
(Strange as it may sound, the power of mathematics rests on its
evasion of all unnecessary thought and on its wonderful saving
of mental operasions)
Ernst
Mach
Tanpa
warisan menjadi berkah terselubung
Joseph
Louis Lagrange
(1736– 1813)
Masa
kecil
Lagrange adalah blasteran Perancis dan Italia. Kakeknya adalah
kapten cavaleri Perancis yang mengabdi pada Charles Emmanuel II,
Raja Sardinia yang menikah dengan dengan gadis Turin, anak bangsawan
keluarga Conti. Ayah Lagrange adalah penyandang dana perang Sardinia,
menikah dengan Marie Therese Gros, anak semata wayang dari seorang
dokter kaya di Cambiano dan mempunyai sebelas orang anak. Lagrange
lahir dengan kondisi parah, tapi akhirnya selamat. Ayah dan ibunya
kaya sekaligus seorang spekulan. Saat Lagrange dan saudara-saudaranya
dewasa, tidak ada lagi kekayaan yang dapat diwariskan, sehingga
ada ungkapan, ”Jika saya mendapat warisan dalam jumlah besar,
barangkali saya tidak akan mempelajari matematika.”
Di sekolah minat Lagrange adalah ilmu klasik. Jadi bukanlah suatu
kebetulan apabila dia menyenangi matematika. Awalnya mempelajari
karya-karya Euclid dan Archimedes tapi tidak berkesan baginya.
Setelah melihat karya [Edmund] Halley (penemu komet) tentang metode
geometrikal sistetik dengan menggunakan kalkulus, Lagrange langsung
tertarik. Dengan belajar sendiri, dalam kurun waktu singkat, dia
mampu menguasai apa yang sekarang dikenal dengan nama analisis
modern (modern analysis). Umur 19 tahun, Lagrange menjadi Profesor
matematika di Sekolah Royal Artilleri di Turin. Sejak saat itu
Lagrange mulai berkiprah dalam sejarah matematika.
Karya
Lagrange
Dari awal, Lagrange memposisikan dirinya sebagai seorang analis,
bukan geometer. Spesialisasi atau pembagian tugas ini kelak menjadi
penting dalam riset matematika. Karya besar Lagrange tidak pelak
adalah Analitis Mekanika (Mecanique analytique) yang dikarang
sejak dia berusia 19 tahun dan masih tinggal di Turin. Karya ini
baru diterbitkan pada tahun 1788 di Paris saat umur Lagrange sudah
52 tahun, itupun atas prakarsa teman-temannya. Ada perkembangan
luar biasa dalam buku ini.
Lagrange
menyatakan bahwa dalam ilmu mekanika diperlukan geometri ruang
empat dimensi – tiga koordinat Kartesian ditambah dengan
satu koordinat waktu - untuk menggambarkan pergerakan partikel
dalam ruang sekaligus dalam waktu. Mekanika versi Lagrange menjadi
populer sejak 1915 setelah Einstein menggunakannya dalam teori
relativitas umum.
Buku itu juga merombak cara pandang hukum gravitasi universal
untuk mekanika alam semesta (celestial) dari Newton karena membahas
problem tiga-raga: bumi, matahari dan bulan – saling tarik-menarik
satu dengan lainnya menurut hukum kuadrat terbalik dari jarak
antara pusat gravitasi masing-masing (kelak akan dijelaskan oleh
Poincare). Prestasi ini membuat Lagrange dianugerahi dengan memperoleh
penghargaan dari Akademi Aains Perancis, saat Lagrange berusia
28 tahun. Tahun 1766, kembali memperoleh penghargaan yang sama
tapi dengan topik “Empat satelit Yupiter.” Tidak lama
kemudian, Lagrange diundang Raja Sardinia untuk pergi ke Paris
dan London. Lagrange akan diperbantukan pada Caraccioli, Menteri
Sardinia untuk Inggris. Saat tiba di Paris, Lagrange jatuh sakit,
akibat terlalu banyak “makanan enak” menu Italia.
Dirawat di Paris dan bertemu dengan intelektual kota Paris, dimana
salah satunya adalah Abbe Marie. Makanan kota Paris ternyata mampu
menahan Lagrange tinggal di sana, gagal ke Inggris sebelum kembali
ke Turin.
Ilmuwan
muda
Lagrange menulis surat berisikan komentarnya tentang tentang variasi-variasi
kalkulus yang ditulis oleh d’Alembert saat berusia 19 tahun.
Kekaguman Lagrange akan karya puncak itu dibuktikan dengan menggabungkannya
variasi-variasi calculus dengan mekanika. Metode yang kemudian
dikenal dengan sebutan persamaan Lagrangian mendominasi mekanika
adalah pembuktiannya bahwa gabungan beberapa ilmu pengetahuan
(sains) dapat memunculkan suatu ilmu atau disiplin ilmu baru.
Masih di Turin, Lagrange melakukan langkah besar: mengaplikasikan
diferential kalkulus ke dalam teori probabilitas. Saat itu, umur
Lagrange 23 tahun, lebih hebat dari Newton, dengan mencetuskan
teori matematika tentang bunyi, membawa teori ini untuk sistem
mekanik dari partikel-partikel elastik (bukan mekanika untuk zat
cair), dengan memperhatikan pola perubahan partikel-partikel di
udara dalam satu garis lurus dengan memberi getaran (shock) sejajar
ruang antara pertikel dan partikel. Pada saat yang sama juga meralat
rumusan matematikal dari problem getaran dawai – problem
paling mendasar dari teori getaran. Umur 23 tahun prestasi Lagrange
tidak kalah dengan Euler dan keturunan keluarga Bernoulli.
Meralat
Euler
Euler selalu menghargai ciptaan orang lain. Tak terkecuali terkesima
dengan hasil kerja Lagrange. Kekaguman ini terjadi saat Lagrange
umur 19 tahun, mengirim hasil kerjanya kepadanya untuk diberi
pengarahan. Euler menyarankan agar meneruskan. Empat tahun kemudian,
Lagrange mengirim surat berisi metode untuk menyelesaikan problem-problem
isoperimetrikal (variasi-variasi kalkulus, yang dirintis oleh
Bernoulli) yang membingungkan Euler selama bertahun-tahun. Euler
menjawab dengan pernyataan bahwa metode baru itu dapat menyelesaikan
hambatan-hambatan, dan menyuruh Lagrange menerbitkan temuan itu.
Lagrange mengalami kesulitan, sebelum akhirnya Euler menerbitkan
hasil kerjanya (setelah Lagrange) dan mengatakan bahwa saya dapat
mengatasi hambatan-hambatan ini setelah Lagrange menunjukkan cara
penyelesaiannya yang luar biasa. Prestasi ini membuat Euler mengangkat
Lagrange sebagai anggota asing dari Akademi Berlin (1759). Pengakuan
ini membuat nama Lagrange dikenal di Perancis, sebelum Euler dan
d’Alembert membuat jaduual kunjungan Lagrange ke Berlin.
Lewat negosiasi yang alot dan lama dengan Frederick Agung, akhirnya
Lagrange disetujui datang ke Berlin.
Teman
d’Alembert
Saat itu d’Alembert dikenal sebagai matematikawan terkemuka
di Perancis. Idola Lagrenge saat remaja adalah d’Alembert
yang akhirnya menjadi pertemanan beda generasi ini. D’Alembert
selalu memberi semangat kepada teman korespondennya ini agar mampu
mengatasi kesulitan-kesulitan dan menyelesaikan problem-problem
matematika, sekaligus perduli dengan kondisi kesehatan Lagrange.
Lagrange lahir dengan kondisi tidak begitu sehat. Memang Lagrange
mempunyai kelemahan pada sistem pencernaan – terutama pada
usia 16 sampai 26 tahun, saat dimana dia memaksakan diri untuk
bekerja keras. D’Alembert menyarankan agar Lagrange sering
minum the atau kopi agar tetap terjafa; dalam kesempatan tertentu,
Lagrange sering dikirimi dengan artikel-artikel kesehatan terbaru
tentang penyakit yang diidap Lagrange. Saat umur 45 tahun Langrange
mengirim surat kepada d’Alembert, ”Saya merasa bahwa
kekuatanku meningkat sedikit demi sedikit dan saya dapat mempelajari
matematika sampai 10 tahun ke depan.” Saat itu Lagrange
dalam keadaan sakit dan melankonis. * Surat terakhir, balasan
dari d’Alembert (1783), ditulis sebulan sebelum meninggal
tetap berisi nasihat kepada Lagrange: ”Jangan pernah berhenti
bekerja. Tetapkanlah dalam pikiran bahwa orang di seluruh dunia
akan menghormati nama besar Lagrange.”
Menikah
dua kali
Tidak lama setelah menetap di Berlin, Lagrange ijin pulang ke
Turin untuk menikah. Ada dua skenario yang diketahui. Skenario
pertama, Lagrange tinggal bersama kedua orang tua gadis tersebut.
Sering menemani gadis itu berbelanja. Tinggal dalam satu rumah
selama bertahun-tahun tidak mustahil terjadi suatu hubungan “khusus”
sehingga akhirnya Lagrange menikahinya. Skenario kedua terkait
dengan tantangan d’Alembert. Hal ini diketahui dari surat
d’Alembert kepada Lagrange, ”Saya tahu bahwa filsuf
atau matematikawan mengetahui cara menghitung kebahagiaan. Saya
ragu apakah kamu sudah menemukan solusi dalam suatu perkawinan.”
Lagrange mengambil langkah berani – menikah - untuk menohok
d’Alembert dengan permainannya – dan sukses. Perkawinan
ini bahagia bahkan saat istrinya sakit Lagrange menjaga dan merawatnya
setiap hari. Dan patah hati saat akhirnya istrinya meninggal.
Saat Lagrange berumur 56 tahun, tinggal sendirian dan bersedih
hati. Dia berada di atas antara hidup dan mati sebelum ditolong
oleh seorang wanita berumur kurang dari 40 tahun. Anak seorang
teman Lagrange, seorang astronomer, Lemonnier. Tersentuh oleh
kesedihan Lagrange, dia bersedia menjadi istrinya. Perkawinan
ini memercik kembali gairah hidup Lagrange dan berakhir bahagia.
Mendalami
Aritmatika
Tahun 1768, dalam isi sebuah surat kepada d’Alembert, Lagrange
menulis bahwa dia sedang mempelajari aritmatika. Ditemukan kesulitan
yang di luar dugaannya bahkan mungkin di luar dugaan d’Alembert
pula. Diawali dengan semua integer positif, n untuk menemukan
integer persegi panjang, x² dan nx² + 1 adalah bentuk
persegi panjang. Temuan ini penting bagi bentuk kuadrat yang menjadi
ciri analisis Diophantus. D’Alembert membalas bahwa analisis
Diophantus mungkin berguna dalam integral kalkulus, tapi tanpa
disertai rincian. Kelak tahun 1870, ditemukan oleh G. Zolotareff.
Problem ini juga menarik perhatian Laplace, sesama matematikawan
Perancis, yang kemudian mengirim surat kepada Lagrange, sebelum
terjalin persahabatan diantara mereka. Tetapi motivasi mempelajari
matematika bagi mereka berdua berbeda seperti bumi dan langit
(baca: Laplace). Saat lagrange di Berlin, terjadi penemuan terbesar
aljabar pada tahun 1767 yang terdapat dalam buku On the Solution
of Numerical Equations. Riset Lagrange dalam teori dan solusi
persamaan memberi insprirasi aljabaris abad 19 seperti: Cauchy,
Abel, Galois, Hermite dan Kronecker. Penyelesaian persamaan pangkat
besar dengan koefisien berupa angka, seperti:
7x68 – 17x45 + x – 16 = 0
Banyak
metode untuk mendapatkan akar bilangan. Semua itu diajarkan di
aljabar. Akan tetapi Lagrange memberi metode universal untuk menyelesaikan
persamaan. Guna menyelesaikan persamaan: ax² + bx + c = 0
atau pangkat lebih dari tiga, pertama kali pindahkan x ke sisi
(ruas) kiri dan sisi (ruas) kanan sama dengan nol. Untuk persamaan
dengan pangkat n dan bilangan tidak diketahui x, maka akan diperoleh
nilai x sebanyak n. Untuk persamaan kuadrat di atas hasilnya adalah:
1/2a(-
b + √b² - 4ac)
dan 1/2a(- b - √b²
- 4ac)
Serasa
ingat rumus di atas. Memang rumus itu lebih dikenal dengan sebutan
rumus ABC yang pasti diketahui oleh semua murid sekolah lanjutan.
Lagrange
pindah minat
Setelah Frederick Agung meninggal pada tahun 1786 dan timbul kemarahan
besar terhadap orang-orang bukan bangsa Prusia dan terjadi perbedaan
pendapat dalam bidang sains membuat Berlin tidak nyaman lagi buat
tinggal Lagrange dan ilmuwan-ilmuwan lain di Akedemi Berlin. Begitu
ada tawaran dari Louis XVI untuk meneruskan karya di bidang matematika
di Paris dan menjadi anggota Akedemi Perancis, langsung diterima
oleh Lagrange. Datang ke Paris pada tahun 1787, Lagrange disambut
oleh keluarga kerajaan dengan penuh penghargaan. Menjadi tokoh
idola Marie Antoinette – kurang dari 6 tahun dari dipenggal
oleh guiltin, dimana umur mereka beda 19 tahun. Tinggal di Louvre
sampai terjadi revolusi. Umur 51 tahun ini Lagrange merasa bahwa
pekerjaan selama ini membuatnya sangat lelah, disusul perasaan
melankonis. Semua itu membuatnya sering melamun, kehilangan antusiasme
apalagi terhadap matematika. Buku Mecanique Analytique selama
2 tahun tidak penah dibuka. Seperti halnya Newton yang beralih
minat dengan menekuni spiritual, Lagrange tidak disangka bertemu
teman yang mendalami bidang sama sekali berbeda dengan matematika,
kimia. Kimia saat itu baru naik peringkat menjadi ilmu –
sebelumnya alkimia, menjadi minat baru Lagrange atas usaha temannya,
Lavoisier (1743 – 1794) yang dipicu oleh ungkapan temannya,
“Semudah aljabar.”
Karir
Ketika Ecole Politechnique dibuka pada tahun 1795, Lagrange adalah
Profesor pertama dan mengajar matematika. Lagrange akan membiarkan
mahasiswa mempelajari aritmatika, aljabar sampai analisis dan
dia sendiri bertindak sebagai mahasiswa. Salah seorang muridnya
adalah Napoleon. Pernyataan kekaguman Napoleon terhadap Lagrange
diungkapkan dalam ucapan, “Lagrange adalah piramida terkokoh
dari sains matematikal.”
Saat
para mahasiswanya menemukan kesulitan dengan konsep tidak terhingga
(infiniti) besar maupun kecil – tanpa cara Leibniz atau
Newton – dia membuat dua karya, Theory of Analytic Functions
(1797) dan Lessons in the Calculus of Functions (1801). Kedua
karya ini memberi ilham pada Cauchy untuk penyempurnaan kalkulus.
Karya penting Lagrange selama periode revolusi adalah menetapkan
desimal (angka berbasis sepuluh) sebagai sistem metriks (kalibrasi)
untuk berat dan panjang, meskipun lewat debat panjang dengan alternatif
11 dan 12 dalam komite yang dibentuk. Laplace dan Lavoisier adalah
anggota komite sedang ketuanya adalah Lagrange. “Saya tidak
tahu mengapa mereka menunjuk saya,” dia berkomentar, barangkali
suatu berkah bahwa tidak bicara tidak hanya menyelamatkan jabatannya
tapi juga kepalanya, karena riwayat Lavoisier berakhirnya “ditimpa”
guilotin pula.
Penerbitan
buku
Tahun 1782, Laplace berniat menyelesaikan Mecanique analytique
dan menerbitkan namun masih perlu sentuhan akhir. Legendre mengambil
tugas mengedit, sedangkan teman lama Lagrange, Abbe Marie, bertugas
membujuk penerbit yang ada di kota Paris dengan jaminan reputasinya.
Akhirnya buku diterbitkan setelah Abbe Marie menyatakan kesediaan
untuk membeli semua buku yang tidak laku sampai batas tanggal
tertentu. Tahun 1788, buku terbit, tapi Lagrange ada di Berlin.
Upaya terakhir Lagrange bagi pengembnganan sain adalah pengembangan
dan revisi dari Mecanique analytique untuk penerbitan edisi kedua.
Semua kekuatan muncul seperti masa mudanya, namun raganya tidak
mau menuruti pikirannya lagi. Saat bangun pagi, istrinya menemukan
Lagrange jatuh pingsan dengan kepala luka karena terbentur dengan
ujung meja. Dua hari sebelum meninggal, Lagrange mengundang Monge
dan teman-temannya dan mengucapkan:
Saya sakit parah dan saya akan meninggal.
Saya sampai pada kesimpulan bahwa tidak sedih, tidak ada penyesalan.
Saya akan meninggal dan saya akan bahagia, meski istriku tidak
mengharapkannya. Saya sudah mendapatkan karir; Saya memperoleh
ketenaran dengan matematika. Saya tidak pernah membenci siapapun,
saya sudah melakukan yang terbaik.
Itulah pesan terakhir Lagrange. Tertidur
dan tidak pernah bangun lagi setelah teman-temannya pergi. Lagrange
meninggal pada pagi hari tanggal 10 April 1813, pada umur 76 tahun.
* Melankonis atau suka merenung, menurut
ilmu pengobatan Cina, adalah sejenis penyakit yang terkait dengan
organ Yang: lambung dan organ Yin: limpa. Seperti diketahui Lagrange
memiliki kelemahan pada lambung, sehingga dia lebih mudah terserang
penyakit ini karena ada kaitan.
Sumbangsih
Menggunakan Kartesian ditambah dimensi waktu ternyata mendasari
terbentuknya teori relativitas umum Einstein, meskipun Einstein
harus menunggu terlebih dahulu munculnya Riemann yang mencetuskan
geometri non-Euclidian. Mekanika muncul sebagai ilmu baru, merupakan
penerapan prinsip-prinsip fisika dan matematika dengan penekanan
lebih kepada penerapan guna membantu manusia dalam menjalani kehidupan
sehari-hari. Niat baik ini sebenarnya sudah bergaung pada jaman
Apollonius namun baru memperoleh momentum setelah Lagrange. Aljabar
juga menjadi perhatian Lagrange dengan memberikan rumus untuk
memperoleh hasil bilangan-bilangan yang tidak diketahui. Belum
lagi peran dalam pengembangan kalkulus dan kolaborasinya dengan
sesama matematikawan dan ilmuwan Perancis seangkatan maupun lebih
tua (Euler dan d’Alembert) memberi sumbangsih yang tidak
kecil bagi perkembangan matematika.