Keluarga
Bolyai
Farkas Wolfgang Bolyai (1775 – 1856)
Wolfgang Bolyai lahir di Bolya (dekat Nagyszeben), Transylvania,
Kerajaan Austria (sekarang Sibiu, Romania). Wolfgang bersekolah
di Jena, sebelum melanjutkan di Gottingen. Menjadi mahasiswa di
Gottingen, dia diajar oleh Kaestner dan mempunyai sahabat karib
sekaligus teman kuliah yang sangat terkenal [Carl Friedrich] Gauss.
Ucapannya ketika berkunjung ke rumah Gauss ditanya oleh Dorothea
Benz, ibunda Gauss, bahwa: “Gauss adalah matematikawan terbesar
di Eropa” sangatlah terkenal.
Minat utama Wolfgang adalah dasar-dasar geometri dan postulat
kelima Euclid, postulat kesejajaran, pada khususnya. Selalu berkirim
surat dengan Gauss selama hidupnya tentang kedua topik di atas.
Karyanya berjudul Tentamen (dua jilid) merupakan kiprahnya untuk
memberikan dasar geometri, aritmatika, aljabar dan analisis yang
sistematik.
Begitu selesai kuliah di Gottingen pada tahun 1799, pulang ke
Hongaria dan mengajar matematika, fisika dan kimia pada Reformed
College di Marosvasarhely selain mengajar anaknya sendiri. Putus
asa dengan postulat kesejajaran yang diketahuinya mempunyai kejanggalan
namun tidak dapat dibuktikannya membuat dia menulis surat kepada
anaknya:
Jangan
berkutat dengan postulat kesejajaran, karena akan mengurangi kenyamanan,
kesehatan dan ketenangan, dan seluruh kebahagiaan dalam hidup
ini.
Gagal membuktikan postulat akhirnya menikmati
masa tuanya dengan menulis puisi, musik dan drama, sebelum meninggal
di Marosvasarhely, Transylvania, Kerajaan Austria (sekarang Tirgu
Mures, Romania).
Janos
Bolyai (1802 – 1860)
Lahir di Kolozsvar, Transylvania, dimana pada saat itu masih berada
dalam pemerintahan Grand Duke Hongaria di bawah pimpinan keluarga
Hapsburg. Janos memasuki angkatan perang dengan reputasi sebagai
officer terpuji. Awalnya menerima postulat-postulat Euclid sebagai
aksioma yang berdiri sendiri dan menemukan bahwa memungkinkan
mengkonstruksi geometri, dengan dasar aksioma-aksioma lainnya,
satu titik dalam bidang yang terdiri dari garis-garis tidak terhingga
yang tidak bersinggungan dengan garis pada bidang tersebut. Gagasan
ini, oleh sang ayah, dikirimkan ke Gauss untuk dimintai pendapat
tentang gagasan tidak biasa ini. Jawaban Gauss, memuji gagasan
itu, namun tidak disarankan untuk dilanjutkan.
Kecewa dengan komentar ini. Semangatnya untuk menjadi ilmuwan
ternama surut. Kekecewaan ini terus membayangi sehingga dia sulit
berkonsentrasi meskipun ada makalah karyanya. Tidak produktif
sampai dia meninggal.
Semasa
remaja mampu mengungkapkan “kejanggalan” postulat
kesejajaran Euclid dan merintis apa yang disebut dengan geometri
non-Euclidian yang berbeda dengan penemuan Lobachevski.
Usia 21 tahun, melanggar larangan ayahnya karena mengembangkan
geometri yang beda dengan postulat kelima yaitu dengan geometri
hiperbolik dan ternyata mampu memecahkan kebuntuan yang dialami
oleh ayahnya. Penemuan ini mendasari teori-teori fisika modern
yang muncul pada abad kedua-puluh. Tidak pernah menerbitkan makalah
Appendix tidak lebih dari 26 halaman, karena tidak mampu mempublikasikan
penemuannya, namun Janos meninggalkan 3.000 halaman artikel matematka
dan 11.000 halaman makalah lain ketika dia meninggal. Janos Bolyai
meninggal di Marosvasarhely, Transylvania.
Sumbangsih
Bapak anak yang “terpikat” dengan postulat kesejajaran
Euclid. Kepenasaran sang ayah diteruskan oleh anak yang sukses
menemukan “kejanggalan” postulat itu dan mencetuskan
geometri non-Euclidian dengan cara yang berbeda dari penemuan
Nicolai Lobachevski. Semangatnya mudah runtuh sehingga sulit mengembangkan
bakat matematikanya yang sebenarnya cemerlang.