Kita
tinggal di pulau pengetahuan yang dikelilingi oleh lautan tanpa
ignorance. Sewaktu pulau pengetahuan berkembang, begitu pula pantai
ignorance diri kita
( “We live on an island of knowledge surrounded by a sea
of ignorance. As our island of knowledge grow, so does the shore
of our ignorance”)
John
A. Wheeler
Matematikawan
yang mengubah sistem pendidikan Jerman
Johann
Peter Gustav Lejeune Dirichlet
(1805 – 1859)
Masa
kecil
Lejeune Dirichlet. Sebuah nama yang aneh. Keluarganya berasal
dari sebuah kota kecil di Belgia bernama Richelet, dimana kakeknya
tinggal. Nama yang diberikan sebenarnya “Le jeune de Richelet”
yang berarti “Pemuda dari Richelet.” Nama “berbau”
Perancis seolah-olah mengundang interpretasi bahwa Dirichlet berasal
dari Perancis. Ayahnya adalah seorang kepala kantor pos di Duren,
sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah antara kota Cologne
dan kota Aachen. Sampai umur 12 tahun, Dirichlet sangat menyukai
matematika, yang dibuktikan dengan menabung uang jajan hanya untuk
membeli buku-buku matematika, sebelum dia masuk Gymnasium, sebuah
sekolah di kota Bonn pada tahun 1817. Ketika menjadi siswa di
sini, Dirichlet dikenal sebagai seorang siswa pendiam dengan sikap
terpuji dan sangat menyukai pelajaran matematika dan sejarah.
Hanya sempat sekolah dua tahun, sebelum ayahnya memindahkan ke
College Jesuit di Cologne. Di sini Dirichlet sempat diajar oleh
Ohm. Umur 16 tahun, lulus dan siap masuk ke universitas. Saat
itu standar pendidikan universitas di Jerman masih kurang sehingga
Dirichlet memutuskan untuk belajar di Paris. Berbekal buku Disquisitiones
arithmeticae karya Gauss yang selalu dibawa layaknya sebuah Alkitab,
Dirichlet menuju Paris pada bulan Mei 1822. Sempat terserang cacar,
namun tidak menghambat kuliah dan mengurangi minat belajarnya.
Kuliah dari dosen-dosen terkemuka seperti Biot, Francoeur, Hachette,
Laplace, Lacroix, Legendre dan Poisson membuat matanya terbuka.
Kelak hal ini dibawa pulang ke Jerman dan beberapa tahun kemudian
standar universitas-universitas di Jerman dapat meraih prestasi
sebagai terbaik di dunia.
Kembali
ke Jerman
Pada pertengahan tahun 1823, Dirichlet bekerja pada Jendral Maximilien
Sebastien Foy, yang tinggal di dekat rumahnya dekat Paris. Jendral
Foy termasuk tokoh utama Napoleon dalam perang, dan dipensiun
setelah Napoleon menyerah di Waterloo. Pada tahun 1819, Foy menjadi
ketua partai oposisi Liberal yang dijabat sampai meninggalnya.
Dirichlet diperlakukan seperti layaknya anggota keluarga dan diberi
gaji yang cukup untuk mengajarkan bahasa Jerman kepada istri dan
anak jendral tersebut. Tahun 1825, Jenderal Foy meninggal dan
Dirichlet memutuskan untuk pulang ke Jerman atas desakan Alexander
von Humboldt untuk menjadi pengajar. Kendala terjadi karena seorang
pengajar harus bergelar Doktor.
Sebenarnya Dirichlet mampu membuat tesis, sebagai prasyarat untuk
menjadi Doktor dan berhak mengajar, namun karena tidak mampu berbicara
dalam bahasa Latin, dianggap sebagai faktor penghambat. Kendala
ini diatasi oleh universitas Cologne dengan mengangkat Dirichlet
sebagai Doktor kehormatan dan membuat tesis tentang polynomial
untuk dipertahankan di “kelas spesial” pada universitas
Breslau. Awalnya timbul perbedaan pendapat diantara profesor-profesor
di Jerman, sebelum akhirnya reda dengan sendirinya.
Tahun 1827, Diriclet, untuk pertama kalinya, mengajar di universitas
Breslau dan mengetahui bahwa standar pendidikan di Jerman masih
rendah. Tidak puas kenyataan ini, kembali, lewat bantuan Humboldt,
Dirichlet pindah ke Berlin pada tahun 1828 untuk mengajar pada
Military College. Rupanya posisi ini menjadi “batu loncatan”
untuk mengajar dan menjadi profesor pada universitas Berlin. Posisi
ini dijabat dari tahun 1828 sampai tahun 1855. Jabatan sebagai
pengajar dan melakukan tugas administratif di Military College
tetap dipertahankan.
Membuktikan
theorema Fermat
Saat masih di Paris, Dirichlet mencoba memecahkan TTF (Theorema
Terakhir Fermat), yaitu: xn + yn = zn, dimana n > 2. Dalam
kasus n = 3 dan n = 4 sudah dibuktikan oleh Euler dan Fermat,
dan Dirichlet berusaha membuktikan untuk n = 5. Apabila n = 5
dan x, y dan z adalah satu adalah bilangan genap dan lainnya bilangan
yang dapat dibagi 5. Ada dua kasus di sini: kasus 1 terjadi apabila
semua bilangan dapat dibagi 5 adalah bilangan ganjil/gasal, dan
kasus 2 terjadi apabila ada dua bilangan genap dan satu lainnya
dapat dibagi lima: keduanya berbeda.
Dirichlet
membuktikan kasus 1 dan mempresentasikan makalahnya pada Academy
Paris pada tahun 1825. Pada saat ini Dirichlet sempat bertemu
dengan Abel yang sedang berada di Paris (baca: Abel). Legendre
yang saat itu menjadi juri, kemudian mampu membuktikan kasus 2.
Uraian tentang cara pembuktian diterbitkan pada September 1825.
Sesungguhnya Dirichlet dapat membuktikan kasus 2 karena hanya
merupakan perluasan dari kasus 1. Ada catatan tersendiri bahwa
Dirichlet kemudian memberi sumbangsih dalam pembuktian n = 14.
Dalam bidang mekanika, Dirichlet melakukan penelitian tentang
keseimbangan sistem dan teori potensial. Lewat makalah yang ditulisnya
pada tahun 1839 dipaparkan metode untuk mengevaluasi integral
berangkai (multiple integral) dan diaplikasikan untuk memecahkan
problem gravitasi elipsoid. Kiprah lain adalah konvergen deret
trigonometrik , yang pertama kali dipakai oleh Fourier untuk menyelesaikan
persamaan-persamaan diferensial.
Berteman
dengan Jacobi
Setelah menduduki jabatan pada Berlin Academy of Sciences pada
tahun 1831, gajinya ditambah dan berani menikah. Istrinya bernama
Rebecca Mendelssohn, salah seorang putri dari komposer terkenal
Felix Mendelssohn. Pada saat ini pula Dirichlet menjalin persahabatan
dengan Jacobi yang menjadi pengajar di Konigsberg, dimana akhirnya
keduanya saling memberi pengaruh kepala lainnya dalam penelitian
tentang teori bilangan.
Tahun 1843, Jacobi menderita diabetes dan mengharuskannya beristirahat
di Italia dimana iklimnya lebih “bersabahat.” Jacobi
tidak mempunyai kecukupan uang. Dirichlet yang datang membesuk
berjanji mengupayakan dana dengan menulis surat kepada Humboldt
agar meminta bantuan dari Friedrich Wilhelm IV. Dirichlet juga
meminta cuti dan tunjangan selama delapan belas bulan untuk mengantar
Jacobi. Pertengahan tahun 1843, Dirichlet bersama Jacobi dan Borchardt,
berangkat menuju Italia. Menginap di beberapa kota dan sempat
menghadiri pertemuan matematika di Lucca, mereka sampai di Roma
pada bulan November 1843. Schlafli dan Steiner bergabung bersama,
dimana Schlafli bertindak sebagai penterjemah sambil belajar matematika,
dan Dirichlet adalah pembimbingnya.
Penafsir
buku Gauss terbaik
Mirip dengan Eisenstein, Dirichlet adalah teman sekaligus murid
Gauss. Perbedaan keduanya hanya terletak pada kepemilikan buku
karangan Gauss, Disquisitiones Arithmeticae. Eisenstein tidak
mempunyai buku itu, sedang Dirichlet memiliki. Bukan berarti Dirichlet
lebih kaya dibanding Eisenstein (baca: Eisenstein), karena hal
itu bukan merupakan alasan utama. Penerbit buku karya Gauss keburu
gulung tikar sebelum semua peminat kebagian. Memegang buku “ekslusif”
ini membuat diri Dirichlet terpacu untuk mempelajari buku ini.
Buku ini selalu dibawa oleh Dirichlet baik pada ketika melakukan
perjalanan, bahkan saat tidur pun, buku ini terletak di dekat
bantal. Sebelum tidur selalu diupayakan membuka bab-bab yang sulit
dipahami dengan harapan – biasanya terpenuhi – bahwa
pada waktu terjaga di tengah malam dapat membaca ulang sebelum
semua menjadi gamblang.
Buku itu dapat disebut buku yang paling sulit dipahami sehingga
sering disebut orang dengan julukan “buku dengan tujuh segel”.
Bahkan oleh matematikawan sekalipun, namun harta karun yang terpendam
didalamnya (sebagian tersembunyi) dalam hal-hal yang sederhana,
ternyata mampu dipahami oleh Dirichlet.
Menggantikan
Gauss
Dirichlet tidak terus menetap di Roma, tapi juga ke Sisilia dan
Florence sebelum kembali ke Berlin pada awal tahun 1845. Hari-harinya
diisi dengan mengajar di universitas Berlin dan Military College.
Tahun 1853, mengirim surat ke salah seorang muridnya, Kronecker,
bahwa setiap minggunya dia harus mengajar 13 jenis mata kuliah
masih ditambah dengan mengerjakan administratif. Tahun 1855, Gauss
meninggal dan Dirichlet ditawari untuk mengisi posisi Gauss di
Gottingen. Setelah universitas Berlin menolak permohonan naik
gaji yang diajukannya, Dirichlet pindah ke Gottingen. Suasana
sepi dan tidak banyak kerja administrarif di Gottingen membuat
melakukan penelitian bersama para mahasiswa. Tahun 1858, ketika
menjadi pembicara pada konferensi di Montreux, kota kecil di Swiss,
kena serangan penyakit jantung. Pulang ke Gottingen dengan susah
payah dan penyakit makin parah, setelah tidak lama kemudian dia
meninggal karena stroke, menyusul istrinya yang beberapa bulan
sebelum meninggal.
Sumbangsih
Mengawali pembuktian Theorema Terakhir Fermat (TTF) sehingga memicu
matematikawan lain untuk terus berkutat dengan TTF dan mengilhami
Gauss tentang hukum biquadratic reciprocity. Dirichlet memberikan
difinisi tentang fungsi seperti yang dipakai sekarang. (y dan
x adalah dependent dan independent variabel). Dari semua di atas
yang paling penting adalah meletakan dasar kuat bagi pendidikan
di Jerman pada umumnya dan matematika pada khususnya sehingga
menjadi nomor satu. Era dominasi para matematikawan Perancis (terakhir
Cauchy) mulai digantikan oleh kirprah para matematikawan Jerman
(Jacobi, Weierstrass, Kummer, Kronecker, Dedekind, Riemann, Cantor,
Steiner).