Saya
merasakan ada sesuatu yang menjembatani antara Tuhan dan kehampaan
I am in a sense something intermediate between God and nought
Descartes
Prajurit
merangkap matematikawan dan filsuf
Rene
Descartes
(1596 – 1650)
Masa
kecil
Dua belas tahun setelah meninggalnya Cardano, lahirlah anak dari
sebuah keluarga terpandang di Perancis, Rene Descartes. Ibunya,
Jeanne Brichard, meninggal beberapa hari setelah melahirkan dan
bayinya pun dalam kondisi lemah. Bayi ini tumbuh meskipun dengan
wajah pucat, menderita batuk kering turunan ibunya – barangkali
indikasi TBC.
Mempunyai dua kakak – laki dan perempuan – setelah
ayahnya menikah lagi. Descartes muda tidak banyak mempunyai teman.
Barangkali kurang dari enam orang, tetapi semuanya adalah sahabat
setianya. Pergaulan paling dekat justru dengan inang pengasuh
dan beberapa wanita tetangganya.
Pendiam dan memberi kesan seorang “kutu buku” sehingga
ayahnya menjulukinya dengan sebutan “filsuf.” Anak
kecil serius ini pada umur sepuluh tahun dikirim ke sekolah Jesuit
di La Fleche yang terkenal di seluruh Eropa. Salah satu teman
akrab Descartes adalah Mersenne. Kelak Mersenne ini selalu diberitahu
Descates tinggal, karena Descartes senang menyepi, tidak mau diganggu
dan mengarang tentang topik-topik kesenangannya. Di sekolah ini
Descartes belajar logika, etika, metafisik, sejarah dan ilmu pengetahuan
sebelum belajar aljabar dan geometri tanpa guru.
Menjadi
obyek penelitian
Ketika mendaftar di sekolah La Fleche, rektor sekolah itu, Pastor
Charlet, menyukai anak kecil berwajah pucat ini karena dapat dijadikan
obyek penelitian. Pastor ini mengemukakan hipotesis bahwa ada
hubungan erat antara tubuh [body] dan pikiran [mind]. Untuk itu
Pastor kepala ini berusaha memperbesar tubuh anak ini, memberi
pendidikan dan bimbingan untuk mengasah pikirannya. Melihat bahwa
anak kecil ini perlu banyak istirahat, maka Pastor kepala ini
memberi “jatah” istirahat kepada Descartes lebih dari
yang lain. Dengan rekomendasinya, Descartes kecil diperkenankan
tidur selama dia mau, bangun sesuka hati dan tidak perlu disiplin
hadir seperti halnya teman-teman lainnya. Tidak lah mengherankan
bahwa hampir setiap pagi, seumur hidup Descartes, waktunya dihabiskan
di tempat tidur saat dia perlu berpikir. Akan selalu dikenang
bahwa pagi yang tenang dan sedikit meditasi adalah sumber inspirasi
bagi filsafat dan matematika. Akar filsafat yang didasari oleh
skeptikisme rasional membuat dia menyatakan “Cogito ergo
sum” (Saya berpikir, maka saya ada).
Pelajaran bahasa Latin, Yunani dan bahasa-bahasa negara Eropa
lainnya diperoleh selama sekolah. Lulus dengan pesan dari para
guru-gurunya bahwa sekarang dia memasuki dunia nyata. Persahabatan
dengan Pastor Charlet tetap terjalin bahkan akhirnya terjalin
persahabatan abadi antar dua manusia beda generasi ini.
Berjudi
Kembali ke rumah pada umur 18 tahun yang menyatakan bahwa semua
yang dipelajarinya adalah sampah tanpa guna. Menikmati waktu beberapa
bulan, pulang menengok keluarga sambil belajar anggar dan berkuda
sebelum kembali berkemas guna masuk universitas Poiters dengan
pilihan studi bidang hukum. Ayahnya sebagai seorang pengacara
merasa senang sekali karena mempunyai harapan bahwa kelak ada
yang bakal meneruskan profesinya. Dua tahun kemudian Descartes
lulus, tapi justru ingin berpetualang. Pergi ke Paris dan selama
beberapa bulan berjudi. Tidak lama dia mengajukan bea siswa untuk
mempelajari matematika. Selama dua tahun, dengan tekun dia belajar
matematika di tempat tidur sambil mata menerawang memandang. Kebiasaan
lama – di La Fleche - menghabiskan lebih banyak waktu di
tempat tidur, membuat dia baru mendusin di atas jam 11.00. Menghina
dosen dan menuruti keinginannya sendiri adalah rutinitas bagi
dirinya.
Menjadi
Prajurit & Berperang
Masih berjudi meskipun dalam beberapa kesempatan sering menang,
tapi lebih banyak kalah. Ditambah masih tetap bangun siang membuat
hidup Descartes terpuruk. Dalam suatu kesempatan dia bertemu dengan
sobat kentalnya. Dikatakan bahwa Descartes harus melihat sisi
lain dari kehidupan dengan cara menjadi prajurit. Pada ulang tahunnya
ke-22, Descartes menjadi prajurit Pangeran Maurice dari Orange
dan dikirim ke kota kecil di Belanda, Breda. Tidak puas dengan
tindak-tunduk dan tindakan yang sesuai dengan harapannya, Descartes
dengan penuh gerutu kembali ke kemah dan kembali ke Paris sebelum
berangkat ke Jerman. Pada saat karir, tubuhnya menunjukkan gejala
tidak sehat lain seiring dengan umur makin bertambah. Terus mencari
kesempatan sampai akhirnya dia sampai di Frankfurt, dimana belum
lama raja Ferdinand II naik tahta. Darah prajuritnya bergolak
melihat pawai kerajaan. Tidak lama Descartes, mendaftarkan dirinya
kembali sebagai prajurit Bavaria yang tidak lama kemudian mencetuskan
perang dengan Bohemia. Saat musim dingin tiba, tidak ada perang,
Descartes mempunyai banyak waktu untuk kembali merenung dan mencari
jati diri.
Diceritakan bahwa dia bermimpi, tiga kali bermimpi. Pertama, dia
dibawa terbang oleh angin jahat dari gereja atau sekolahnya sampai
ke suatu tempat dimana angin itu kemudian kehilangan kekuatannya;
kedua, dia menyaksikan hujan badai disertai guntur yang sangat
menakutkan tetapi tidak mencederai dirinya; ketiga, dia bermimpi
membaca kamus dengan awal berisikan puisi Ausonius dengan kalimat
pembuka, “Quod vitae secatabor iter?” [Jalan kehidupan
apa yang harus kutempuh?]
Meskipun bukunya sudah terbit, Descartes tetap menjadi prajurit.
Pada tahun 1619, meskipun setengah dari pasukannya terbunuh dalam
pertempuran di Prague, dia selamat. Terus berperang, sampai akhirnya
dia memenangkan pertempuran pada tahun 1620, dan memasuki kota
untuk menangkap para tawanan. Salah satu tawanannya adalah Ratu
Elisabeth * yang saat itu masih berusia empat tahun.
Kemenangan perang memberinya banyak uang. Tidak pulang ke Perancis
karena saat itu dilanda epidemi dan ada perang Huguenot sehingga
tanpa daya tarik. Eropa bagian utara tenang dan bersih dan Desartes
pergi ke sana. Di sini, dia kembali mendapatkan keberuntungan.
Dalam suatu perjalanan naik perahu, semua awak perahu berniat
merampok, membunuh, dan membuang mereka ke laut. Mereka tidak
menyadari bahwa Descartes memahami bahasa mereka, sehingga dengan
mengacungkan pedangnya Descartes menyuruh mereka mendayung balik.
Kelahiran kembali geometri kembali terselamatkan.
Filsafat
Descartes
Ketiga mimpi yang dialami Descartes membuat dia berupaya menafsirkan
bahwa: dia sudah menjelajah dunia [di bawa angin], dihadang kekuatan
besar yang tidak dapat dikendalikan [angin] tapi tidak mencederainya
dan dia sekarang ada pada persimpangan jalan kehidupan yang harus
dia pilih [Jalan kehidupan apa yang harus kutempuh]. Guntur adalah
peringatan baginya bahwa jangan sampai terlambat dan kamus menunjuk
bahwa dia harus menekuni ilu pengetahuan. Mencari kebenaran adalah
karir pilihan baginya. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang ditulis
pada buku harian, “Saya mulai memahami dasar-dasar penemuan
spektakuler … Semua sains saling terkait seperti rantai.”
Semua sains terhubung sama halnya theorema geometri menyebabkan
dia mengemban tugas berat untuk menemukan hubungan-hubungan dan
mata-rantai mata-rantai dalam pencarian alasan. Descartes bertekad
untuk mengembangkan matematika dan filsafat. Pendekatan untuk
memahami kedua topik di atas didasari pada ketentuan-ketentuan
sbb.:
1. Tidak akan/jangan pernah menerima kebenaran dimana saya tidak
benar-benar memahaminya.
2. Bagilah setiap kesulitan-kesulitan ke dalam kategori tertentu
menjadi bagian-bagian kecil apabila memungkinkan.
3. Mulailah penyelesaian dari yang sederhana dan mudah sebelum
menuju ke jenjang yang lebih kompleks.
4. Buatlah dengan cermat dan periksa secara menyeluruh sampai
merasa yakin tidak ada yang diabaikan.
Bertemu Isaac Beeckman
Pada suatu kesempatan, di Breda, ketika dia berjalan-jalan, dilihatnya
kerumunan orang dan Descartes yang diliputi rasa ingin tahu datang
menghampiri. Di tengah kerumunan berdiri orang tua yang menantang
siapa pun yang dapat memecahkan problem matematika. Memecahkan
problem itu mudah baginya namun mengalami hambatan bahasa membuat
Descartes berteriak-teriak mencari orang yang dapat menterjemahkan
bahasa ibunya – Perancis, ke dalam bahasa Belanda. Muncul
seorang lelaki setengah baya dengan senang hati menawarkan jasanya.
Penterjemah itu tidak lain adalah Isaac Beeckman, matematikawan
terkemuka Belanda saat itu, menyatakan bahwa problem matematika
tersebut terlalu mudah karena langsung dapat dipecahkan. Beeckman
heran, seorang prajurit dapat memecahkan problem matematika pastilah
bukan prajurit biasa. Mereka saling berkenalan dan sejak saat
itu Isaac Beeckman menjadi teman sekaligus pembimbing Descartes.
Atas anjuran Beeckman pula lah, Descartes mau menekuni matematika
kembali. Untuk memancing minat akan matematika, Descartes diberi
tugas memecahkan problem termasuk menemukan hukum kecepatan jatuhnya
benda yang sudah dirintis oleh Galileo. Galileo menemukan bahwa
kecepatan jatuhnya benda adalah 32t kaki per detik kuadrat, di
mana t adalah jumlah detik. Untuk ukuran ilmu pengetahuan, kecepatan
itu dianggap terlalu lamban dan tidak efisien.
Kartesian
Pengaruh Beeckman terhadap Descartes sangat besar sehingga sering
disebutnya dengan “Ayah spiritual sekaligus sumber inspirasi
terhadap minat belajarku.” Dia membuat komitmen untuk menjadi
perintis bidang matematika baru. Empat bulan setelah insiden pertemuan
itu, Descartes melaporkan kepada Beeckman tentang penemuannya,
cara baru mempelajari geometri. Setelah bertahun-tahun dihantui
dengan metode-metode ahli-ahli geometri Yunani. “Tampaknya
tidak ada sistem yang mampu memecahkan cara pembuktian jenius
mereka [orang Yunani] kecuali diperoleh kelelahan luar biasa karena
mencoba mencitrakannya.” Untuk menangani garis-garis dan
bentuk-bentuk ruang diperlukan sebuah grafik untuk menggambarkannya.
Grafik dibuat dengan menyilangkan garis horizontal - diberi nama
sumbu x, dengan garis vertikal – diberi nama sumbu y, dimana
persilangan itu terjadi pada titik nol [0]. Pada sumbu x sisi
kanan adalah positif sedang sisi kiri negatif. Begitu pula, bagi
sumbu y di sisi atas adalah positif dan sedang di sisi bawah negatif.
Bentuk-bentuk atau garis-garis dapat digambar pada grafik sessuai
dengan posisinya yang ditandai dengan angka-angka. Sebagai contoh,
sebuah titik dapat digambarkan oleh dua angka, satu menunjukkan
jarak pada sumbu x dan lainnya menunjukkan jarak pada sumbu y.
Misal: titik P dihadirkan dengan dua angka 2 dan 3 menunjuk 2
satuan ukuran pada sumbu x dan 3 satuan ukuran [yang identik]
pada sumbu y dan ditulis dengan notasi titik P (2,3).
Apabila ada 2 orang pelari dengan kecepatan yang sama tapi satu
pelari telah berada pada jarak 1 meter sedangkan jarak yang harus
ditempuh 10 meter. Dengan mengandaikan y selalu di muka 1 unit
dibandingkan x, maka dapat ditulis persamaan, y = x + 1 atau x
– y + 1 = 0. Setelah lama “bermain” dengan garis-garis
akhirnya Descartes menemukan bahwa semua garis lurus mempunyai
persamaan umum: ax + by + c = 0, dimana a, b dan c adalah konstanta.
Semua garis lurus dapat dijabarkan ke dalam satu macam persamaan
aljabar.
Persamaan di atas, y = x + 1 [lihat: gambar 1] dapat disimulasikan
dengan tabel di bawah ini sebelum semua titik-titik itu dihubungkan
menjadi sebuah garis lurus.
| Titik
|
A |
B |
C |
D
|
E |
F |
| y
|
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
| x
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
Saat
dia mempelajari bentuk-bentuk dengan menggunakan sumbu-sumbu,
Descartes menemukan hasil mengejutkan. Diketahui bahwa semua bentuk
mempunyai kategori persamaan umum, seperti halnya garis lurus.
Menggambar theorema Pythagoras, pada sebuah lingkaran dengan pusat
pada titik (0,0) dengan x dan y masing-masing menunjuk jarak dari
titik pusat dan r adalah jari-jari lingkaran, diperoleh x²
+ y² = r². Rumus di atas merupakan fungsi lingkaran.
Bentuk-bentuk lain seperti – ellips, hiperbola, parabola
– juga mempunyai fungsi yang lazim disebut dengan persamaan
tingkat kedua (kuadrat), sedangkan fungsi untuk garis lurus disebut
dengan persamaan tingkat pertama (linier). **
Damai
di masa tua
Sejak 1641, Descartes tinggal di desa kecil dekat Hague di negara
Belanda bersama dengan putri Elisabeth (beserta ibunya) dan yang
sekarang sudah remaja dan bersikeras untuk terus belajar. Merujuk
ke belakang, hal itu diawali oleh kejeniusan Elisabeth mampu menguasai
enam bahasa sebelum melalap semua literatur matematika dan sains.
Salah satu dugaan bahwa putri ini patah hati sehingga mengabdikan
dirinya pada ilmu. Saat dia membaca buku Descartes, keingintahuan
tentang matematika timbul dan mengundang Descates dengan surat
berisi kesediaannya menjadi guru.
Tahun 1646, Descartes menikmati kehidupan sederhana di Egmond,
Belanda. Meditasi, berkebun dan melakukan korespondensi dengan
ilmuwan-ilmuwan terkemuka Eropa adalah aktivitas sehari-hari.
Dia tetap berpikir tentang matematika, terutama paradoks Achilles
dan kura-kura, yang terlalu sulit dipecahkan pada saat itu. Sebelumnya
dia memohon pensiun dari Raja Perancis, dengan syarat dia akan
pulang dan tinggal di tanah kelahirannya. Permohonan Descartes
disetujui, namun begitu dia datang ke istana, semua mata hadirin
tertuju kepadanya seperti memandang orang asing dan tak seorangpun
dari mereka tahu tentang permohonan pensiunnya. Mengetahui kenyataan
itu, Descartes langsung kembali ke Egmond.
Meninggal
di Swedia
Ratu Christine dari Swedia, yang mengagumi Descartes, beberapa
tahun sebelumnya, memohon agar Descartes tinggal di istananya,
tapi tidak ditanggapi. Putri yang selalu ingin belajar filsafat
ini melalap hampir semua buku filsafat. Putri berumur 19 tahun
ini akhirnya mengalami kesulitan saat berusaha memahami filsafat
Descartes. Tidak ada pakar atau filsuf di lingkungan istana yang
mampu menjelaskan. Dia harus mengundang sendiri pencetus filsafat
itu. Descartes yang merasa sudah nyaman tinggal di Egmond, merasa
mendapat kehormatan ketika Admiral Fleming datang menjemputnya.
Terpekur dia memandangi kebun kecil yang setiap hari dirawatnya
sebelum meninggalkan Egmond untuk selamanya,
Kagum dengan kemauan keras sang ratu belajar filsafat, sampai
kepalanya tidak bergerak saat membaca buku dan lupa waktu. Pelajaran
dimulai pukul 5 dini hari. Hawa dingin dan radang paru yang diidap
Descartes sebenarnya tidak cocok tinggal di Swedia. Kenangan saat
di La Fleche, setiap pagi hari saat dia masih tidur dipandangi
oleh Pastor Charlet membuat dia betah di Swedia meski terus merindukan
Egmond. Awal tahun 1650, radang parunya kambuh dan tanggal 11
Februari 1650, Descares meninggal dan mewariskan filsafat pada
seorang ratu. Tujuh belas tahun kemudian, saat Christine diangkat
menjadi ratu, tulang belulang Descartes dibawa pulang ke Perancis,
setelah ada konflik kecil yang menyebutkan bahwa Descartes tetaplah
warga Perancis. Tidak lama setelah itu buku-buku karangan Descartes
masuk ke dalam Index, daftar buku yang disusun oleh gereja di
bawah pimpinan Kardinal Richelieu ***, karena dianggap buku-buku
tersebut mampu memberi pencerahan baginya.
* Kelak akan menjadi murid kesayangan Descartes.
** Apabila titik pusat lingkaran tidak pada titik (0,0), misal
pada titik (2,3) maka fungsi lingkaran dapat dicari dengan rumus
(x-2)² + (y-3)² = r²; Fungsi parabola y² =
2px dengan pucak parabola pada titik (0,0); fungsi ellips : x²/a²
+ y²/b² = 1 dengan pusat ellips ada pada titik (0,0);
fungsi hiperbola: x²/a² - y²/b² = 1 dengan
pusat hiperbola pada titik (0,0)
*** Barangkali pembaca merasa tidak asing dengan nama ini. Novel
‘Three Musketeers’ dari Alexander Dumas mengambil
latar belakang dan tokoh-tokoh jaman ini. Nama Kardinal ini juga
akan muncul pada riwayat Blaise Pascal.
Sumbangsih
Menghubungkan aljabar dengan geometri barangkali adalah karya
besar Descartes. Suatu persamaan aljabar dapat diekspresikan ke
dalam bentuk geometri. Bentuk lingkaran, elips, hiperbola, parabola
dapat diekspresikan dalam persamaan-persamaan aljabar. Ditambah
dengan sistem Kartesian (menggambar dalam potongan sumbu x dan
sumbu y – pada titik (0,0) yang membentuk 4 kuadran memudahkan
para matematikawan mengformulasikan hal-hal yang selama ini merupakan
obyek-obyek yang kasat mata menjadi nyata.
Peranan Descartes dalam filsafat juga layak ditonjolkan. Lewat
“aksioma-aksioma”, Descartes meletakkan fondasi atau
pilar bagi pengembangan matematika di kemudian hari oleh matematikawan
lain. Seperti ucapan Newton – yang terkenal, “Saya
berdiri di pundak raksasa.” menunjuk pencapaian Newton tidak
lepas dari peran raksasa itu. Salah satu raksasa itu adalah Descartes.
(Raksasa lain adalah Galileo dan Kepler).