Sophie
Germain
(1776 – 1831)
Riwayat
Marie Sophie Germain adalah anak perempuan dari pasangan Ambroise-Francois,
pedagang sutera yang kaya, dengan Marie Madelaide Gruguelin. Rumahnya
merupakan tempat pertemuan orang-orang yang menyukai faham liberal,
sehingga sejak kecil fasih berdiskusi dalam topik politik dan
filsafat.
Ketika berumur 13 tahun, Sophie membaca kisah tentang meninggalnya
Archimedes (baca: Archimedes) karena ditusuk prajurit Romawi.
Tergerak hatinya untuk menjadi seorang matematikawati seperti
halnya Archimedes. Pertimbangannya, apabila orang terlalu asyik
dengan “:pekerjaannya” dan melupakan prajurit yang
mengepungnya dan rela mati untuk hal tersebut, pastilah subyek
itu memikat hati. Untuk maksud itu, Sophie belajar sendiri bahasa
Latin dan Yunani.
Menyukai
Matematika
Minat Sophie dicoba dihambat oleh kedua orang tuanya namun tengah
malam secara diam-diam mempelajari Newton dan Euler. Akhirnya
hal ini ketahuan. Untuk itu diambil tindakan dengan tidak memasang
pemanas dan lampu di kamar agar Sophie “terpaksa”
tidur. Kembali, cara ini tidak berhasil. Dengan membuat selimut
dari kain perca dan memakai lilin, sambil belajar di bawah ranjang
pada malam hari. Akhirnya, kedua orang tuanya menyerah dan membiarkan
Sophie belajar matematika. Oleh karena tidak dapat masuk ke universitas
seperti layaknya kaum lelaki, Sophie hanya belajar lewat catatan-catatan
dari berbagai bahan pelajaran matematika yang diajarkan di Ecole
Polytechnique. Mengirim surat kepada Lagrange tentang analisis,
Sophie menggunakan nama samaran Leblanc, seraya melampirkan makalah
hasil karyanya. Lagrange terpesona dengan gagasan yang terkandung
dalam makalah itu berusaha mencari pengarangnya. Akhirnya Lagrange
mengetahui bahwa Leblanc adalah seorang wanita, namun rasa hormatnya
tidak tergoyahkan dan bahkan menawarkan diri menjadi mentor matematika.
Theorema
Germain
Sophie mampu membuktikan bahwa: apabila x, y dan z adalah integer
dan jika x5 + y5 = z5, maka x, y dan z harus dapat dibagi lima.
Pernyataan ini disebut dengan Theorema Germain. Hasil ini penting
karena terkait dengan TTF (Theorema Terakhir Fermat) dengan mendasari
pemecahan TTF setelah ada “sentuhan” dari Kummer pada
tahun 1840. Sophie juga meneliti teori elastisitas, dengan menerbitkan
beberapa makalah yang terkait dengan subyek tersebut.
Mengikuti
kontes
Sophie berusaha membuktikan problem yang dikemukakan oleh Ernst
F.F. Chladni dari Jerman pada tahun 1808 di pertemuan ilmiah di
Paris yaitu: mengformulasikan teori matematika untuk permukaan
elastis dan memberi indikasi bagaimana kesesuaiannya dengan kenyataan.
Dalam waktu dua tahun, siapa yang dapat mengformulasikan akan
mendapatkan hadiah.
Tidak banyak matematikawan yang terlibat dalam kontes ini, karena
sebelumnya Lagrange mengemukakan bahwa metode matematikal yang
sekarang ada tidak mampu memecahkan problem ini. Sophie yang selama
hampir sepuluh tahun berkutat dengan teori elastisitas, bersaing
dan berkolaborasi dengan para matematikawan dan fisikawan terkemuka.
Sophie adalah satu-satunya peserta yang mengirim jawaban pada
tahun 1811, namun karyanya tidak memperoleh hadiah. Sophie tidak
menjabarkan hipotetis dari prinsip fisika, bukan pula analisis
dan variasi-variasi kalkulus yang tidak pernah dipelajarinya.
Tenggat kontes diperpanjang dua tahun lagi dan kembali Sophie
satu-satunya peserta yang mengirim jawaban. Dia memperagakan bahwa
persamaan Lagrange berlaku pada pola-pola Chladni dalam beberapa
kasus, tetapi tidak dapat memberi derivatif persamaan Lagrange
dari prinsip fisika. Karya ini Sophie memperoleh pujian.
Kontes kembali diperpanjang dengan hadiah medali yang terbuat
dari satu kilo emas, dan Sophie berusaha mengikuti lagi, meski
penguasaan matematikanya masih tertinggal. Publik kecewa saat
Sophie tidak muncul pada upacara pemberian hadiah. Meskipun hal
ini merupakan puncak karirnya sebagai seorang ilmuwan.
Poisson menjadi pesaing dalam elastisitas sekaligus juri kontes
mengirim surat secara pribadi, yang terangkum dalam otobiografinya:
Meskipun
Germain satu-satunya yang berusaha memecahkan problem, dimana
orang-orang lain yang lebih terdidik, lebih mampu dan mempunyai
kesempatan dibandingkan Sophie, dan elastisitas adalah bahasan
ilmiah yang pentiung, Sophie tersingkir. Wanita tidak bekerja
dengan serius.
Korespondensi
dengan Gauss
Ketenaran Gauss di Brunswick, Jerman, membuat Sophie tertarik
untuk melakukan korespondensi dengannya. Gauss dan Sophie tidak
pernah bertemu. Takut bahwa Gauss akan meremehkan karena dirinya
adalah seorang matematikawati, Sophie memakai nama samaran lelaki.
Gauss menghargai opini teman korespondensinya yang menyebut dirinya
sebagai “Mister Leblanc.” Identitasnya terpaksa harus
dibuka setelah dipaksa menunjukkan jati dirinya kepada Gauss setelah
Perancis menyerbu Hanover dan menuju Brunswick. Teringat tentang
meninggalnya Archimedes dan takut akan keselamatan Gauss, Sophie
menghubungi komandan Perancis yang merupakan teman dari kedua
orang tuanya
Lewat
suratnya tertanggal 30 April 1807, Gauss mengucapkan terima kasih
kepada teman korespondensinya karena lewat “campur tangannya”,
menentang Jenderal Perang Pernety, agar tidak memaklumkan perang
di Brunswick.
Gauss juga mengungkapkan kekagumannya tentang Sophie yang menyukai
teori bilangan. Disebutkan bahwa Sophie menunjukkan sesuatu yang
sulit dipercayainya. Cita rasanya akan ilmu pengetahuan abstrak
umum seperti matematika dan semua misteri-misteri bilangan dapat
dikatakan langka.
Tidak
kenal putus asa
Sophie mengembangkan cakupan penelitiannya. Tahun 1825, membuat
makalah dan mengirim pada Institut de France yang beranggotakan
Poisson, Gaspard de Prony dan Laplace. Makalah itu mempunyai banyak
kekurangan, namun bukannya mengirim kepada pengarangnya untuk
melakukan penyempurnaan, komisi justru mengabaikan makalah tersebut.
Pernyataan ini ditemukan dalam kumpulan makalah de Prony yang
terbit pada tahun 1880.
Sophie terus berkarya dalam bidang matematika dan filsafat sampai
meninggalnya. Membuat makalah Considerations generale sur l’etat
des sciences et des lettres yang dimuat dalam Oeuvres philosophiques
setelah dia meninggal. Karyanya mendapat pujian dari August Comte.
Tahun 1829, Sophie terserang kanker payudara namun masih sempat
menyelesaikan beberapa makalah tentang teori bilangan dan On the
curvature of surfaces pada tahun 1831. Bulan Juni 1831, Sophie
meninggal dan pada surat kematiannya disebutkan bahwa dia adalah
tuan tanah bukan matematikawati maupun ilmuwan. Sampai meninggalnya,
Sophie tidak menikah atau menduduki jabatan tertentu, namun ayahnya
selalu memberi dukungan finansial.
Sumbangsih
Jender tidak menghalangi keinginan Sophie untuk melakukan penelitian
ilmiah. Minatnya mencakup akustik, teori matematika tentang elastisitas,
dan aritmatika tingkat lanjut adalah bidang-bidang yang diminatinya.
Upaya yang dilakukan guna membuktikan bahwa dirinya mampu perlu
mendapat acungan jempol. Tanpa pendidikan dan otodidak mampu bersaing
dengan nama-nama besar seperti Poisson dan mendapat pujian dari
Lagrange dan Gauss.